Malang (beritajatim.com) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) memamerkan hasil riset dan inovasi terkini dalam gelaran expo untuk menguatkan kolaborasi dengan mitra dunia usaha dunia industri (DUDI). Expo yang berlangsung di Ghra Polinema pada Senin-Rabu (20-22/5/2024), juga sebagai upaya mendukung komersialisasi dan hilirisasi produk inovasi.
Ketua Panitia, Sapto Wibowo , S.T, M.Sc., Ph.D., menguraikan expo hasil riset bertema ‘Penguatan kolaborasi dudi untuk mendukung hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi’ ini dilangsungkan selama tiga hari dengan berbagai kegiatan. Hari pertama, diisi dengan dua talkshow dan Penandatanganan MoU/MoA/PKS oleh Bidang Kerjasama.
“Hari kedua ada talkshow dan diseminasi hasil riset di Polinema. Kemudian hari terakhir atau hari ketiga diisi dengan lomba mahasiswa berupa board game, robot, ekonomi syariah dan Tiktok,” ungkap Sapto Wibowo saat pembukaan expo hasil riset dan inovasi di Graha Polinema, Senin (20/5/2024).
Dengan expo ini, Sapto berharap hasil penelitian dan inovasi bisa bermanfaat dan dirasakan oleh masyarakat luas. Expo di Polinema tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi sudah rutin dilakukan selama 3 tahun belakangan.
Dijelaskan ketua panitia bahwa deseminasi produk hasil penelitian dilaksanakan oleh 5 peneliti. Dalam pelaksanaan Expo Polinema melibatkan pihak eksternal maupun internal. Pihak eksternal terdiri atas, 4 perguruan tinggi lain, 11 industri, ada 3 desa mitra.
“Pihak internal diisi oleh 16 penelitian, 4 pusat riset, 7 jurusan. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung kesuksesan acara ini, semoga kegiatan ini memberi kontribusi positif bagi masyarakat dan industri,” ucap Sapto Wibowo.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT., menyebut bahwa Polinema sebagai penyelenggara pendidikan tinggi vokasi, punya banyak nilai yang harus diemban. Di samping penyelenggaraan pendidikan berkualitas, Polinema harus bernilai dalam aspek ekonomi dan sosial.
“Tugas utama menyelenggarakan pendidikan berkualitas, tapi ada juga aspek sosial dan aspek ekonomi. Dari aspek sosial, keberadaan Polinema tidak boleh jadi menara gading yang terpisah dari masyarakat setiap masalah di masyarakat jadi masalah juga bagi warga Polinema,” ungkap. Supriatna Adhisuwignjo

Polinema berupaya membangun kemitraan dengan berbagai kelompok masyarakat di desa, kecamatan. Pengabdian dosen dan mahasiswa Polinema, kata Direktur, sebagai bagian dari hilirisasi, memecahkan masyarakat.
Pada spek nilai ekonomi, keberadaan Polinema, memiliki nilai bermanfaat bagi masyarakat di sekitar maupun seluruh Indonesia. Supriatna menegaskan, pihaknya punya tugas memajukan kesejahteraan, tidak hanya untuk warga polinema saja, tetapi seluruh masyarakat di Malang Raya dan Indonesia.
“Karya dan inovasi bisa membantu masyarakat dan stakeholder dalam meningkatkan kesejahteraannya. Inilah misi, karena kita rutin selama 3 tahun ke belakang. Expo ini intuk menyampaikan informasi pada semua unsur masyarakat, dari media, dudi, dan yang lain agar bisa menjadi informasi karya yang terhilirisasi, terkomersialisasi dan bermanfaat semakin luas,” ucapnya.
Expo riset dan inovasi, kata Direktur Polinema, juga menjadi rangkaian dari Dies Natalis, yang ke- 42 tahun. Polinema saat ini memliki 700 dosen, sekitar 1150 dosen dan tendik, dengan 14.000 mahasiswa. Banyak potensi yang dimiliki, begitupun karya yang dihasilkan dari riset dosen, pusat riset, dari mahasiswa juga begitu banyak.
“Di usia Polinema ke-42 ini, semoga kita bisa menjadi lebih baik . Semoga kami bisa mengemban amanah untuk menjadi Pendidikan tinggi vokasi unggul,” tutup Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT. [dan/beq]






