Surabaya (beritajatim.com) – Dunia komunikasi publik saat ini bergerak sangat cepat, penuh inovasi, dan nyaris tanpa jeda. Namun di tengah laju tersebut, komunikasi kerap mengalami “rem blong”. Kecepatan sering mengalahkan ketepatan, sementara viralitas tak jarang menggeser kualitas serta etika dalam penyampaian pesan ke publik.
Fenomena itu menjadi sorotan utama dalam podcast Jatim Connect bersama praktisi media, humas, dan content creator. Diskusi ini mengupas tantangan komunikasi publik di era digital yang semakin kompleks, ketika arus informasi begitu deras dan batas antara media massa, humas, serta netizen kian kabur.
Perkembangan media digital membuka peluang besar sekaligus tantangan serius. Setiap orang kini dapat menjadi produsen konten, algoritma media sosial menentukan sebaran informasi, dan kecepatan menjadi mata uang utama. Dalam situasi tersebut, para narasumber sepakat bahwa dunia komunikasi tidak cukup hanya cepat dan menarik, tetapi harus tetap akurat, beretika, dan relevan bagi publik.
Ketua STIKOSA-AWS sekaligus pengurus Perhumas Surabaya Raya, Jokhanan Kristiyono, menegaskan pentingnya prinsip “Indonesia Bicara Baik” sebagai fondasi komunikasi publik. Menurutnya, konten yang beretika memang tidak selalu viral secara instan, namun memiliki daya tahan dan membangun kepercayaan jangka panjang.
“Konten yang baik dan beradab mungkin kalah cepat, tapi akan bertahan lebih lama karena dibangun dengan kepercayaan,” ujar Jokhanan.
Dari sudut pandang media, CEO BeritaJatim.com, Dwi Eko Lokononto, menyampaikan bahwa media sosial bukanlah lawan media arus utama, melainkan alat distribusi yang harus dimanfaatkan secara cerdas.
“Media tetap wajib memegang pakem jurnalistik, namun perlu menyesuaikan gaya penyampaian agar dekat dengan audiens digital tanpa mengorbankan akurasi,” kata jurnalis senior yang akrab disapa Luki tersebut.
Ia juga menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) justru menjadi keuntungan bagi media yang konsisten bekerja dengan data, verifikasi, dan fakta yang kuat.
Sementara itu, Junita Larasati, content creator sekaligus pengelola media sosial di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, menyoroti tantangan konten digital dari sisi dampak. Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar viral atau tidak, melainkan apakah pesan yang disampaikan dipahami dan mampu mengubah perilaku masyarakat.
“Banyak kebijakan atau program pemerintah kerap menuai persepsi negatif bukan karena substansinya, melainkan karena cara penyampaian yang kurang relevan, terutama bagi generasi muda,” terang Junita.
Diskusi juga menyinggung fenomena konten yang “dipaksakan viral”. Upaya mengejar atensi semata dinilai berisiko menghasilkan konten yang terasa cringe dan rapuh secara kepercayaan. Popularitas instan tanpa fondasi kualitas hanya menciptakan jejak digital yang mudah runtuh ketika menghadapi krisis atau sorotan publik.
Dari kegelisahan bersama inilah lahir Jatim Connect, sebuah wadah kolaborasi yang mempertemukan media, humas, influencer, akademisi, hingga komunitas di Jawa Timur. Platform ini digagas sebagai ruang belajar sekaligus aksi bersama, untuk menutup kelemahan masing-masing pihak dengan kekuatan yang dimiliki pihak lain.
Media hadir dengan standar akurasi, influencer dengan kedekatan audiens, humas dengan akses institusional, serta akademisi dengan landasan keilmuan. Jatim Connect tidak dimaksudkan sekadar menjadi forum diskusi, melainkan ruang kolaborasi nyata yang mendorong dampak di ruang publik digital.
Dengan fokus pada isu-isu lokal Jawa Timur, Jatim Connect diharapkan mampu memperkuat narasi positif daerah agar lebih terdengar, kredibel, dan berpengaruh.
Di tengah era komunikasi yang serba cepat, pesan utama yang mengemuka dari podcast Jatim Connect adalah bahwa kualitas, kepercayaan, dan kolaborasi tetap menjadi kunci agar media dan komunikasi publik relevan serta berdampak bagi masyarakat. [beq]






