Malang (beritajatim.com) – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Yuwaraja XVII dengan pendekatan yang progresif. Mengusung tema “Be Adaptive: Shape Tomorrow”, acara ini menyambut 1.290 mahasiswa baru dengan kebijakan nol intimidasi yang menempatkan isu kesehatan mental sebagai prioritas utama.
Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., menegaskan bahwa era perpeloncoan telah berakhir. Kini, fokusnya adalah menciptakan lingkungan yang nyaman untuk menumbuhkan kreativitas.
Berbeda dari citra orientasi di masa lalu, Yuwaraja XVII dirancang sepenuhnya untuk mendorong potensi mahasiswa tanpa tekanan. Pihak dekanat menjamin tidak ada lagi tugas berlebihan yang tidak relevan atau aktivitas yang bersifat mengintimidasi.
“Sekarang Yuwaraja tidak ada sama sekali kegiatan-kegiatan yang mengintimidasi mahasiswa baru. Sebaliknya, kami mendorong mahasiswa supaya menjadi kreatif. Kami yakin dengan situasi yang nyaman, mahasiswa akan bisa secara aktif belajar,” tegas Kholid Mawardi, saat sesi pembukaan, Kamis (14/8/2025).
Untuk memperkaya wawasan dan motivasi, Vokasi UB turut mengundang tokoh-tokoh inspiratif, termasuk Wakil Wali Kota Malang dan Dr. Gamal Albin Said, seorang dokter sekaligus anggota DPR RI yang dikenal dengan inovasi sosialnya. Kehadiran mereka diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi generasi muda yang berprestasi.
Salah satu gebrakan paling signifikan dalam PKKMB Vokasi UB tahun ini adalah perhatian serius terhadap isu kesehatan mental (mental health). Plt. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, San Rudiyanto SE., MSA., Ak., menjelaskan bahwa ini adalah fondasi penting bagi keberhasilan studi mahasiswa.
“Isu mental health ini kan menjadi isu yang penting, khususnya bagi Gen Z. Maka dari itu, kami menekankan ini sebagai salah satu materi utama,” ujar San Rudiyanto.
Vokasi UB tidak hanya sekadar memberi materi, tetapi juga menerapkan sistem mitigasi proaktif. Fakultas telah memiliki Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULT KSP) untuk menciptakan ruang aman bagi mahasiswa agar berani melapor (speak up).
“Sebelum PKKMB, seluruh mahasiswa baru sudah mengisi kuesioner yang berfungsi sebagai diagnosis awal. Jika dari hasil tersebut ada mahasiswa yang terindikasi memiliki kecenderungan tertentu, mereka akan langsung mendapat penanganan khusus melalui dosen Penasihat Akademik (PA),” jelasnya.

PKKMB Yuwaraja XVII yang berlangsung selama dua hari pada Kamis – Jumat (14-15/8/2025) di tingkat fakultas hanyalah gerbang pembuka. Mahasiswa baru akan terus mendapatkan pembekalan karakter dan keahlian melalui program lanjutan.
“Kegiatan ini tidak berhenti hanya dua hari. Setelah ini akan ada Open House untuk pengenalan aktivitas kemahasiswaan, lalu dilanjutkan dengan program Krida sebanyak empat kali,” tambah San Rudiyanto.
Program Krida yang dilaksanakan di akhir pekan akan membahas materi-materi esensial seperti budaya kerja profesional, integritas, hingga karakter kewirausahaan untuk mempersiapkan mereka menjadi lulusan yang siap kerja dan berdaya saing.
Seluruh rangkaian PKKMB ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata dunia industri. Dengan tingkat keterserapan lulusan mencapai 80%, Fakultas Vokasi terus berinovasi untuk menghasilkan tenaga terampil di berbagai bidang seperti industri kreatif, desain grafis, IT, dan perhotelan.
Menanggapi tantangan Artificial Intelligence (AI), Dekan Kholid Mawardi menyatakan bahwa Vokasi UB tidak memandang AI sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang harus dikuasai.
“Kami mengintegrasikan teknologi AI dalam pembelajaran di semua mata kuliah. Mahasiswa harus paham terhadap AI, tetapi tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Fungsi dosen dan laboratorium tetap tak tergantikan,” pungkasnya. (dan/but)






