Surabaya (beritajatim.com) – Setelah Muhaimin Iskandar dideklarasikan sebagai cawapres dan berpasangan dengan Capres Anies Baswedan, secara otomatis PKB keluar dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo sebagai capres.
PKB memilih bergabung dengan Partai NasDem dan PKS dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, bahwa Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sudah mengkontaknya melalui WhatsApp dan Gerindra menghormati keputusan tersebut.
“Ini seperti elu ditinggal pacar. Tiba-tiba meninggalkan. Tapi ya sudah. Itu pilihannya. Pak Prabowo akan segera menuntaskan bersama partai politik. Ini bukan perpisahan, apalagi perpecahan. Insya Allah kita akan bertemu kembali dalam titik yang sama,” katanya usai acara Konsolidasi Zona II PBB, Pemenangan Pileg dan Prabowo Subianto di DBL Arena Surabaya, Minggu (3/9/2023) sore.
Disinggung apakah Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra sebagai cawapres Prabowo, Muzani mengatakan, kalau keputusan cawapres menjadi wewenang penuh Prabowo.
Hingga kini, Muzani mengaku belum tahu siapa yang akan diajak menjadi cawapres. Yang jelas, semua partai pengusung dan pendukung dipersilakan untuk memberi usulan. “Tentu saja kami menghormati tokoh yang diajukan partai politik tersebut sebagai Calon Wakil Presiden,” tutur Muzani.
BACA JUGA:
Profil Muhaimin Iskandar, Pria Kelahiran Jombang yang Jadi Bacawapres Anies Baswedan
Menurut Muzani, partai politik pendukung tentu punya cara pandang sendiri. “Tapi, keputusan untuk mendukung, menentukan Calon Wakil Presiden diserahkan kepada Pak Prabowo. Pokoknya tanggal 16 Oktober 2023 itu hari terakhir pendaftaran, Insya Allah tentu akan segera diputuskan,” imbuhnya.
Sejumlah nama memang sedang digodok untuk menjadi cawapres Prabowo setelah Ketum PKB Muhaimin Iskandar keluar dari koalisi. Mencuat nama Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. [tok/suf]






