Surabaya (beritajatim.com) – Birokrat yang diberikan kepercayaan menduduki posisi Penjabat (Pj) Gubernur Jatim pada akhir 2023 mendatang masih belum ditentukan. Pj Gubernur diusulkan oleh DPRD Jatim dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Masing-masing diberikan kuota sebanyak 3 orang calon yang diusulkan, sehingga total calon Pj Gubernur sebanyak 6 orang.
Bagi Pj Gubernur Jatim, terutama yang belum pernah memegang jabatan birokrasi pemerintahan, militer dan Kepolisian di Jatim, memahami peta Jatim secara komprehensif menjadi sangat penting, baik dalam perspektif politik, ekonomi, sosiologis, kultural, dan lainnya.
Sebab, Jatim berada di posisi strategis dalam lanskap nasional yang bersifat multiperspektif. Bacaan dan pemahaman secara benar, utuh, dan presisi tentang Jatim dalam berbagai aspek menjadi modal penting bagi seorang Pj Gubernur Jatim.
Apalagi, Pj Gubernur Jatim mendatang diperkirakan akan memangku jabatan sekitar setahun, dengan dua agenda politik penting sekaligus: Pileg, Pilpres, dan Pemilihan Anggota DPD RI di bulan Februari 2023 dan Pilgub Jatim dan Pilkada 38 Kabupaten/Kota di seluruh Jatim sekitar bulan Nopember 2023.
Misalnya, dalam perspektif ekonomi. Selain dikenal sebagai kawasan lumbung pangan nasional, baik dari sektor pertanian dan peternakan, kekuatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim adalah yang terbesar kedua secara nasional di bawah DKI Jakarta.
Tak menutup peluang, volume PDRB Jatim mungkin saja bisa mengalahkan PDRB DKI Jakarta ketika ibu kota negara nanti berpindah ke Kalimantan Timur (Kaltim). Jatim selama ini menjadi hub ekonomi, bisnis, dan mobilitas sosial ekonomi ke kawasan lain di Indonesia Timur.
BACA JUGA:
Empat Nama Mencuat Jadi Calon Kuat Pj Gubernur Jatim
Realitas tersebut telah berlangsung lama dan bukan hanya pada tahun 2022. Dinamika dan akselerasi kue ekonomi yang berputar di Jatim jauh lebih tinggi dibanding Jateng yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo dan Jabar di bawah kendali Gubernur Ridwan Kamil. Jatim hanya terpaut sedikit dibanding DKI Jakarta, kendati ragam sektor perekonomian Jatim lebih bervariasi dibanding DKI Jakarta.

Data yang ada menunnjukkan, perekonomian Jatim pada tahun 2022 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp2.730,91 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp1.757,82 triliun. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Jatim di tahun yang sama meningkat sebesar 5,34 persen.
Volume PDRB itu merupakan akumulasi dari aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan seluruh pemangku kepentingan yang ada di Jatim, seperti pemerintah, kalangan swasta, BUMN, BUMD, sektor industri besar, menengah, kecil, mikro, dan lainnya. Kalau kita telisik lebih dalam lagi, kapasitas APBD Jatim di tahun 2023 hampir menyentuh Rp30 triliun.
Lebih tepatnya, menurut Sekdaprov Jatim Adhy Karyono, berdasar hasil pembahasan bersama DPRD Jatim terhadap Raperda APBD tahun anggaran 2023 telah ditetapkan pendapatan daerah sebesar Rp29,299 triliun dan belanja daerah sebesar Rp30,570 triliun. “Ini adalah hasil kerja keras TAPD bersama DPRD untuk mengembalikan tradisi pengesahan APBD tepat pada momen Hari Pahlawan,” kata Sekdaprov Adhy di Surabaya, Jumat (11/10/2022).
Itu artinya bahwa kue sosial ekonomi yang digerakkan dan dihasilkan sektor non-pemerintah di Jatim jauh lebih besar volumenya dibanding belanja rutin dan belanja modal (pembangunan) oleh pemerintah. Karena itu, peranan sektor swasta di Jatim (termasuk sektor pertanian, industri manufaktur, jasa, dan sektor perekonomian lain) sangat penting dan besar kontribusinya pada pembentukan volume PDRB Jatim secara keseluruhan dari tahun ke tahun.
Jatim merupakan provinsi yang menarik bagi kalangan investor, baik investor dalam negeri maupun investor asing. Maklum, infrastruktur ekonomi, stabilitas pertumbuhan ekonomi, kualitas SDM, dan karakter masyarakat Jatim secara mayoritas adaptif, toleran, dan moderat dengan perubahan.
BACA JUGA:
Pj Gubernur Jatim 2008 dengan Beban Dua Kontestasi Politik
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI tahun 2022 mencatat bahwa realisasi investasi Jatim tahun 2022 sebesar Rp110,3 triliun. Realisasi sebesar itu meningkat 38,8 persen dibanding tahun 2021 (yoy). Hal ini melanjutkan tren positif sejak tahun 2018 lalu.
Realisasi investasi ini terdiri dari investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp44,9 triliun meningkat sebesar 66,7 persen dari tahun 2021 (yoy). Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp65,4 triliun atau meningkat sebesar 24,5 persen dibanding tahun 2021. .
Secara faktual, realisasi investasi Jatim tahun 2022 tercatat paling tinggi dalam lima tahun terakhir. Secara berturut – turut , realisasi tahun 2018 sebesar Rp51,2 triliun, tahun 2019 sebesar Rp58,5 triliun, tahun 2020 Rp78,3 triliun, tahun 2021 Rp79,5 triliun, dan
tahun 2022 Rp110,3 triliun.
Dalam 3 tahun terakhir, di Jatim ada sejumlah proyek besar bersifat nasional dan strategis. Seperti kilang minyak di kawasan utara Kabupaten Tuban, yang melibatkan PT Pertamina dan Rosneft Rusia sebagai investor dan operator. Tak tanggung-tanggung, biaya membangun kilang minyak ini mencapai Rp238,25 triliun. Adapun lahan yang disiapkan untuk pembangunan kilang minyak ini mencapai 841 hektar.
Selain itu, sejumlah blok migas eksisting dan telah berproduksi di Jatim tersebar di kawasan Madura, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, dan kabupaten/kota lainnya di Jatim.
Blok Cepu di Bojonegoro telah berproduksi lebih dari 10 tahun lalu. Blok migas ini tidak hanya punya potensi besar produksi minyak, tapi di Blok Cepu juga menyimpan potensi sumber gas yang dapat dikembangkan lebih jauh. Di antaranya, potensi gas yang berada di lapangan Cendana dan Alas Tua.
“Di sana juga ada potensi sumber gas Cendana dan Alas Tua yang sedang disiapkan ExxonMobil untuk dikembangkan. Saat ini kita sedang diskusi mengenai rencana investasi ke depan,” ujar Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas pada satu kesempatan.
Saat ini lifting minyak ditopang Blok Cepu sekitar 160-170 ribu barel per hari (bph). Kemudian Blok Rokan di Provinsi Riau sekitar 160-165 ribu bph. Kedua blok migas ini merupakan penopang utama dan tulang punggung lifting minyak nasional yang berada di kisaran 620 ribu hingga 650 ribu barel per hari.
BACA JUGA:
Penentuan Pj Gubernur Libatkan BIN dan Sekretariat Kabinet
Proyek besar lain yang sedang dikerjakan di Jatim, tepatnya di kawasan industri JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik di Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan smelter hingga Agustus 2023 masih on process.
Hingga akhir bulan Mei 2023 lalu, nilai investasi yang dikucurkan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk merealisasikan pembangunan smelter terbesar di dunia ini mencapai USD2,2 miliar (Rp33 triliun). Di tahap konstruksi dan pembangunan fisik, proyek smelter ini membutuhkan tak kurang 15.000 tenaga kerja Indonesia.
Pembangunan smelter PTFI di Gresik dilaksanakan sejak 21 Oktober 2021. Proyek ini mencakup smelter tembaga dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun dan precious metal refinery (PMR) berkapasitas 6.000 ton per tahun. Produk yang dihasilkan berupa katoda tembaga, emas dan perak murni batangan, platinum group metals (PGM), serta produk-produk sampingan lainnya seperti asam sulfat, terak, gipsum, dan timbal.
Dengan potret seperti itu nyatanya masih banyak sektor perekonomian bersifat potensial lainnya di Jatim seperti tembakau dan industri hasil tembakau, perikanan, pertambangan, dan lainnya. Tak mengherankan sekiranya pertumbuhan ekonomi Jatim seringkali berada di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional dan provinsi lainnya di Indonesia.
Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi (c-to-c) tertinggi dicapai Provinsi Jabar dengan 5,45 persen diikuti Provinsi Jatim dengan 5,34 persen, Jateng dengan 5,31 persen, DKI Jakarta sebesar 5,25 persen, DI Yogyakarta sebesar 5,15 persen, dan Banten sebesar 5,03 persen. [air/bersambung]






