Malang (beritajatim.com) – Miss Whida Rositama, penyanyi dan pencipta lagu berbakat, kembali dengan karya terbarunya, Philophobia. Lagu ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan mengangkat tema tentang trauma takut mencintai, sebuah kondisi yang jarang diangkat ke permukaan.
Dengan durasi 3 menit 43 detik, Philophobia adalah balada pop yang dipadukan dengan sub genre emo. Lagu ini menangkap perasaan ketakutan dan trauma seseorang yang takut untuk mencintai karena pengalaman masa lalu yang menyakitkan. Kondisi ini dikenal sebagai philophobia, yaitu ketakutan yang berlebihan terhadap cinta atau menjalin hubungan romantis.
Tren saat ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental menjadi perhatian utama bagi Generasi Z. Mereka kerap dihadapkan pada berbagai tekanan emosional dan sosial yang membuat banyak dari mereka mengalami gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan trauma emosional.
Miss Whida melihat kondisi ini sebagai hal yang relevan dan mendalam, sehingga Philophobia hadir sebagai bentuk respons terhadap keresahan yang dialami generasi muda.
“Lirik lagu ini saya ciptakan untuk membantu mereka yang merasa takut mencintai. Saya ingin menyuarakan perasaan mereka yang mengalami philophobia, karena tidak semua orang merasakan kebahagiaan dari cinta,” ujar Miss Whida dalam sesi konferensi pers yang diadakan di Malang, Kamis (10/10/2024).
Lagu ini berperan sebagai bentuk ekspresi dari perasaan yang sering kali terpendam dan sulit diungkapkan. Dengan lirik yang mendalam dan melodi yang menyentuh, Miss Whida berhasil menyampaikan perasaan orang-orang yang terluka, takut mencintai, atau merasa enggan untuk menjalin hubungan emosional karena takut akan rasa sakit yang pernah dialami di masa lalu.
Peluncuran Philophobia yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia bukanlah kebetulan. Miss Whida ingin lagunya menjadi lebih dari sekadar karya musik, melainkan juga sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Dengan mengangkat tema yang jarang dibicarakan seperti philophobia, dia berharap masyarakat dapat lebih memahami bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
“Kesehatan mental adalah bagian dari hidup yang sering kali diabaikan, padahal dampaknya sangat besar. Saya ingin melalui Philophobia, kita semua lebih peka dan berempati terhadap orang-orang yang mungkin sedang berjuang melawan ketakutan mereka terhadap cinta dan hubungan,” tambahnya.
Dalam Philophobia, Miss Whida menyuguhkan aransemen musik yang minimalis namun kuat. Instrumen yang digunakan terasa sederhana namun penuh makna, menyatu dengan melodi yang sepi, menciptakan suasana intim dan personal.
Melodi lagu mencerminkan perasaan kehilangan, ketakutan, dan keraguan yang sering dirasakan oleh mereka yang trauma dengan cinta. Setiap lirik terasa seperti hembusan napas yang menggambarkan luka tersembunyi dan ketakutan yang sulit diungkapkan.
Proses kreatif di balik pembuatan Philophobia sangat personal bagi Miss Whida. Ia mengakui bahwa lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya dan pengamatannya terhadap kondisi emosional orang-orang di sekitarnya.
“Saya melakukan riset pada diri sendiri. Saya bertanya-tanya, ‘What’s wrong with me?’ Ada ketakutan yang dalam terhadap cinta,” ungkapnya. Perasaan takut terhadap komitmen dan hubungan mendalam inilah yang menjadi dasar dari lirik dan suasana emosional dalam lagu ini.
Menariknya, proses pembuatan lagu ini cukup singkat, dengan aransemen yang rampung dalam satu hari. Namun, hasil akhirnya mampu memberikan dampak emosional yang kuat bagi para pendengarnya. Ini terbukti dari single sebelumnya yang berhasil meraih lebih dari 100 pendengar dalam waktu 8 jam setelah dirilis.
Miss Whida berharap Philophobia bisa menjadi sebuah ruang bagi mereka yang merasa terluka dan takut mencintai, serta membuka diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan mental.

“Lagu ini adalah wujud empati saya kepada mereka yang hidup dalam ketakutan akan cinta. Saya berharap mereka yang merasa takut bisa menemukan keberanian untuk terbuka, dan membantu orang lain memahami bahwa cinta, dengan segala risikonya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang layak diperjuangkan,” ujarnya.
Menariknya, Philophobia tidak hanya mendapat perhatian dari para pendengar musik, tetapi juga dari industri kreatif lainnya. Beberapa pihak telah menyatakan ketertarikannya untuk mengadaptasi lagu ini menjadi film atau bahkan novel. Hal ini semakin memperkuat pesan emosional yang terkandung dalam Philophobia sebagai karya seni yang melintasi berbagai medium.
Philophobia bukan hanya lagu tentang cinta, tetapi juga tentang perjuangan menghadapi ketakutan terdalam. Miss Whida menciptakan ruang bagi mereka yang kerap merasa tak terdengar, yaitu orang-orang yang takut melangkah dalam cinta karena pernah terluka.
Melalui lagu ini, ia berusaha menjembatani kesenjangan antara mereka yang takut mencintai dan dunia yang sering kali tidak memahami ketakutan tersebut. Lagu ini sudah tersedia di berbagai platform musik digital mulai 10 Oktober 2024. (dan/but)






