Malang (beritajatim.com) – Peternak sapi perah di Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon mengeluhkan lambatnya penanganan wabah Penyakit Mulut dan Kuku dari Pemerintah Kabupaten Malang. Penanganan cukup baik justru didapat dari Koperasi SAE Pujon.
“Ya kalau untuk penanganan yang cukup baik dari pihak koperasi SAE di Pujon. Saat gejala awal kita langsung konsultasi minta pengecekan dan langsung dapat penanganan dari dokter hewan,” terang Ahmad Nur Amsah (31), Kamis (7/7/2022).
Amsah menyayangkan penanganan yang kurang tanggap dari Pemkab Malang, khususnya dari pihak desa. Dia berharap agar pemerintah desa bisa lebih tanggap menangani sapi yang masih belum terpapar PMK.
“Harapan saya untuk pemerintah desa agar cepat tanggap untuk sapi-sapi yang masih sehat belum tertular. Saya juga berharap dengan itu, agar PMK ini tidak tambah panjang, karena jika terus begini pendapatan kami dari hasil sapi perah terus berkurang,” kata dia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit-pmk”]
Jumlah produksi susu mulai menurun akibat adanya wabah PMK. Dia memandang penurunan drastis itu terjadi akibat lamanya proses penyembuhan sapi terjangkit.
“Akibat dari sapi ternak yang terkena gejala PMK maka hasil susu dari sapi perah menurun drastis. Itu tidak hanya dialami oleh saya saya sendiri, ada beberapa peternak di desa sini, maupun desa sebelah yang juga terdampak akibat PMK itu. Penyembuhan sapi yang agak lama menurut saya jadi penyebab akan penurunan secara drastis produksi susu di desa saya,” ungkap Amsah.
Beruntungnya, Amsah dan beberapa peternak di Pujon Lor mendapat obat PMK gratis dari koperasi SAE Pujon. “Ya meskipun untuk beberapa peternak di sini juga membeli obat-obat tradisional di pasar, dengan harga masih cukup terjangkau,” kata dia. [dan/beq]






