Pasuruan (beritajatim.com) – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Pasuruan semakin meresahkan peternak sapi. Pasalnya produksi susu perahnya saat ini mengalami penurunan drastis.
Ersan, salah satu peternak di desa Panditan, menyatakan sudah semingguan ini produksi susu sapi perah miliknya ini menurun. Sebelumnya, dalam sehari dia bisa memerah susu sapi hingga 50 liter.
“Biasanya sehari dua kali pemerahan, dapatnya 50 liter. Tapi sekarang cuma 15 liter, itupun sebagian saya kasih cucu, yang dijual ya tinggal 5 liter,” ujar Ersan.
Menurut Ersan, ada puluhan sapi perah di wilayahnya yang sakit dengan gejala mirip PMK. Sapi perah yang sakit itu mengalami benjolan dimulut sehingga sulit untuk makan.
“Itu susunya tidak keluar karena tidak mau makan. Biar mau makan saya sedikit memaksanya dengan masukkan pakan, pakai tangan ke mulut sapi,” imbuhnya.
Para peternak sapi perah khawatir laju perekonomian desa Panditan terhambat jika ternak terus-terusan sakit. Pasalnya hampir seluruh warga di desa Panditan berprofesi sebagai peternak sapi perah.
“Tetangga saya sampe ada yang sakit gara-gara trauma. Sebelumnya dirinya sehari bisa sampai 70 liter sekarang cuma 5 liter,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-jatim”]
Sebelumnya diberitakan, ada sekitar 11 sapi di desa Panditan, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan yang mati mendadak. Belasan ternak yang mati tersebut meninggal dengan gejala mirip PMK.
Saat ini dokter hewan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan telah diterjunkan. Hal ini ditujukan untuk mengecek dan menyuntik ternak yang sakit. [ada/but]






