Blitar (beritajatim.com) – Para peternak Kabupaten Blitar menolak keras wacana Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan mengurangi porsi telur dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Wacana tersebut dinilai sangat merugikan para peternak.
Salah satu penolakan diutarakan oleh Suryono, peternak dari Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Pria yang juga menjadi pengurus koperasi Unggas Manunggal Sejahtera (Ultra) Blitar Raya itu menyebut wacana pengurangan porsi telur untuk menekan Harga hanyalah sebatas kekhawatiran pemerintah semata.
“Itu cuma kekhawatiran saja, karena tidak setiap hari ada telur dalam menu yang disajikan. Selain itu ini setiap peternak sudah persiapan dengan tambahan populasi ditambah lagi adanya Bumdes dan Koperasi Merah Putih di seluruh nusantara sudah banyak yang terjun dalam budidaya ayam petelur. Coba hitung misal 10 persen saja dari Koperasi Merah Putih tersebut yang budidaya. Penambahan produksi telur nasional akan bertambah luar biasa,” ungkap Suryono, pada Rabu (19/11/2025).
Menurut Suryono, saat ini jumlah peternak ayam petelur di Blitar kian hari semakin bertambah. Dengan bertambahnya jumlah peternak maka populasi ayam untuk menghasilkan telur juga semakin meningkat.
“Produksi telur dari peternak anggota kisaran 8-10 ton / hari namun untuk pemasaran telur dari anggota kami serahkan ke masing-masing wilayah dan anggota untuk lebih mudah dan praktis dalam eksekusi,” ungkapnya.
Peternak lain yang turut bersuara terkait hal itu adalah Yesi Yuni. Ketua Koperasi Berkah telur itu menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis belum sepenuhnya menyerap telur dari Blitar.
Pasalnya selama ini market terbesar untuk telur Blitar masih pasar, bukan program Makan Bergizi Gratis. Yeni pun meminta agar pemerintah mengembalikan tujuan awal dari program Makan Bergizi Gratis yakni menggerakkan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM).
“Serapan MBG untuk telur, sebenarnya belum terasa signifikan, tetap pasar yang paling banyak serap mas,” ucap Yesi Yuni.
Yesi mengaku serapan telur untuk satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hanya mencapai 105-120 Kilogram. Jumlah itu cukup kecil jika dibandingkan dengan produksi telur yang dihasilkan oleh Koperasi Berkah Telur besutannya.
“Kemampuan produksi kami 60 ribu ton per hari, yakin (bisa memenuhi kebutuhan SPPG). Peternak itu banyak, dan menu telur itu tidak tiap hari untuk satu titik dapur,” tegasnya.
Soal harga, kedua peternak itu pun yakin ada atau tidaknya pengurangan porsi telur dalam MBG tidak berpengaruh banyak. Pasalnya, saat porsi telur tidak dikurangi seperti sekarang, harga di pasaran sudah cenderung turun. Para peternak justru khawatir jika pengurangan porsi benar dilakukan maka harga telur akan anjlok.
“Sekarang ditingkat peternak kisaran Rp24.500 sampai Rp25 ribu dan cenderung melemah,” ungkap Suryono.
Para peternak ayam petelur di Blitar pun berharap wacana itu tidak dilaksanakan. Lebih lanjut mereka berharap serapan telur semakin diperluas untuk seluruh SPPG di Indonesia. [owi/beq]







1 Komentar
gak merakyat, maunya produk pabrikan besar yg ada margin buat org pusat.