Pamekasan (beritajatim.com) – Hujan masih turun, bulan Juni yang diprediksi petani tembakau akan menjadi kemarau ternyata meleset. Namun petani tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Badai Lanina yang membuat Indonesia masih basah menghantui stok tembakau nasional. Tahun sebelumnya produksi tembakau nasional hanya 160 ribu ton dari tahun 2019 yang mencapai 180 ribu ton.
Bulan April dan Mei yabg ditunggu sudah memasuki kemarau, tak kunjung datang. Ini membuat Samukrah, Ketua Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Pamekasan, tetap melakukan penanaman tembakau di bulan Juni ini meski cuaca kurang bersahabat.
“Beberapa petani ada yang menanam hingga tiga kali, karena tanaman pertama dan kedua mati akibat hujan. Kami masih optimis hujan berhenti pada akhir Juni dan pada Juli cuaca cerah dan semoga tidak ada hujan,” ujar Samukrah saat petisi Together We Grow : Selamatkan Mata Pencaharian Petani Tembakau di di Desa Samatan, Kecamatan Proppo, Pamekasan.
Pada proses awal tanam, hujan merupakan momok bagi petani, karena bibit yang baru ditanam akan busuk dan mati. Ditengah musim kemarau basah yang melanda pulau Madura yang menjadi penghasil tembakau terbesar di Indonesia yakni 33 persen ini, petani juga dihadapkan pada persoalan lainnya. Mulai dengan masalah kebijakan pembatasan tembakau karena isu kesehatan hingga pencemaran lingkungan.
“Belum lagi ratusan regulasi nasional maupun regional yang berdampak pada petani tembakau di sisi hulu ekosistem pertembakauan. Para petani harus bersatu menyelamatkan tembakau,” ungkap Soeseno, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).
[berita-terkait number=”4″ tag=”tembakau”]
Dikatakan tembakau telah memberikan kontribusi dan sumbangsih yang cukup besar bagi penerimaan negara. Termasuk penyerapan tenaga kerja. Ada 2.5 juta petani tembakau, 1.5 juta petani cengkeh, dan sekitar 2 juta tenaga kerja manufaktur hingga industri kreatif yang diserap oleh ekosistem pertembakauan.
“60 persen produksi tembakau berasal dari Jatim dan 60 persen dari pasokan tembakau Jatim berasal dari 1.860 hektar area tembakau di pulau Madura,” papar Suseno.
Hal ini juga yang membuat petani merapatkan barisan dengan menandatangani petisi ini sebagai komitmen bersama memperjuangkan tembakau. Penandatangan dilakukan oleh bersama Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, Soeseno selaku Ketua DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Ajib Abdullah,Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Peternakan (DKPPP) Pemkab Pamekasan dan DR Zainal Abidin, Dosen Ekonomi Pertanian Universitas UPN Veteran Surabaya, Sabtu (18/6/2022).
Badrut Tamam, Bupati Pamekasan menyebutkan jika tembakau bukan hanya sebagai sumber pemberdayaan ekonomi, namun juga budaya dan warisan yang telah mendarah daging.
“Melalui acara dan pertemuan ini, mari kita kuatkan komitmen dan kolaborasi memajukan tembakau. Kita bersyukur masih tetap bisa melaksanakan gelar tanam, semoga diberikan rezeki berlimpah bagi para petani tembakau,”ujar Badrut Tamam.
Pemkab Pamekasan, sebut Badrut, berkomitmen untuk membantu mensejahterakan petani tembakau sebagai bagian dari prioritas pembangunan perekonomian desa. Diakuinya, perlu cara yang konkret untuk memenuhi komitmen tersebut.
“Kami bantu fasilitasi pelatihan melinting bagi para pekerja tembakau, kami bantu peralatannya, kami berikan akses penyertaan modal dengan bunga rendah, kami sediakan marketnya lewat keberadaan warung mitra rakyat. Ayo kita bergandengan tangan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah agar kita makmur bersama-sama demi kualitas hidup yang semakin lebih baik,”tegas Badrut Tamam.
Pemkab Pamekasan kini tengah menyusun grand design kawasan industri hasil tembakau (KIHT). Badrut Tamam menyebutkan bahwa KIHT adalah bukti nyata komitmen pemerintah menyiapkan fasilitas bagi ekosistem pertembakauan sehingga terwujud kerja sama lintas elemen, instansi dan organisasi.
“Maka jangan kita saling curiga, bersama kita berjuang. Kita wujudkan kerjasama tripartit : petani, pemerintah dan pabrikan. Kita pastikan manajemen produksi dan harga dapat berjalan baik. Semua sesuai porsi dan tanggung jawab,” himbaunya kepada petani tembakau.[rea]






