Sampang (beritajatim.com) – Musim panen cabai rawit di Kabupaten Sampang tidak membuat para petani sumringah. Pasalnya, harga cabai rawit saat ini mengalami penurunan yang sangat rendah. Bahkan tidak sebanding dengan biaya penanaman dan perawatan.
Salah satu petani cabai rawit di Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, Mustofa mengatakan, harga cabai rawit sepekan terakhir berkisar antara Rp17 ribu sampai 20 ribu per kilogram.
“Harga cabai rawit saat ini tidak seperti yang kami harapkan, bahkan bisa dibilang rugi. Karena setiap petak tanaman cabai memerlukan biaya Rp2 juta. Sedangkan harga jual hanya Rp600 ribu, itu hanya cukup untuk mengganti biaya pupuk saja,” ujarnya, Kamis (5/9/2024).
Ia menceritakan, dalam sepetak lahan tanaman cabai, rata-rata menghasilkan sekitar 50 Kg. Padahal selama masa tanam cabai membutuhkan pupuk pestisida. Jika hanya laku di bawah angka Rp1 juta maka hanya cukup untuk biaya tanam hingga panen.
“Dengan kondisi anjloknya harga cabai ini kami hanya bisa pasrah. Karena memang harus segera dijual, jika ditimbun menunggu harga mahal maka cabai bisa busuk bahkan tidak laku,” keluhnya.
Anjloknya harga cabai rawit ini dibenarkan oleh H. Hamid selaku pengepul cabai di wilayah Sampang. Saat ditanya penyebab menurunya harga cabai, ia juga tidak bisa berbuat banyak karena tergantung permintaan pasar.
“Naik turunya harga cabai ini tergantung permintaan pasar, bisa naik bahkan bisa turun mengikuti pasar, sehingga bisa saja harga berubah atau sebaliknya,” pungkasnya. [sar/suf]






