Jember (beritajatim.com) – Pertamina akan mengaktifkan kembali pasokan bahan bakar minyak (BBM) via kereta api ke Kabupaten Jember, Jawa Timur untuk mengantisipasi krisis sebagaimana yang terjadi pada akhir Juli 2025.
Sebelum depo Tanjung Wangi di Banyuwangi diaktifkan, BBM di Jember dipasok dengan menggunakan kereta api. Namun setelah Tanjung Wangi beroperasi, depo Pertamina di Kelurahan Gebang pun ditutup pada 1992. Kebutuhan BBM di Jember disuplai dari Banyuwangi.
“Tapi ketika di Banyuwangi macet total, akhirnya kami melihat ternyata untuk daerah Jember sangat berbahaya kalau hanya mengandalkan suplai dari Banyuwangi,” kata Penjabat General Manager Pertamina Patra Niaga Jatim Bali dan Nusa Tenggara Alexander Bangun, saat meninjau Depo Pertamina di Kelurahan Gebang bersama Bupati Muhammad Fawait dan anggota DPR RI Rivqy Abdul Halim, Selasa (5/8/2025).
Saat ini, BBM di Jember disuplai dari Surabaya dan Malang. Namun, menurut Alexander, perlu ada antisipasi kejadian serupa terjadi lagi di Banyuwangi.
“Kita tidak mengharapkan, tapi mengantisipasi keadaan terburuk, sehingga depo ini salah satu alternatif yang kita pertimbangkan untuk jadi buffer stock di Jember. Kalau hanya mengandalkan buffer stcok di SPBU, menurut pertimbangan kami masih kurang,” kata Alexander.
Namun Alexander mengatakan masih perlu kajian untuk lokasi. “Apakah kita akan mengaktifkan depo yang lama ini atau mencari lokasi lain,” katanya.
Aktivasi kereta api BBM ke Jember akan diserahkan kepada PT Kereta Api Indonesia. “Intinya kita ingin Jember punya buffer stock untuk keamanan di Jember,” kata Alexander.
Dalam kondisi normal, Jember mendapat pasokan 900 kilo liter setiap hari. Namun saat krisis BBM tempo hari, pasokan dari Surabaya dan Malang melonjak hingga 1.500 kilo liter. Saat ini pasokan BBM kembali normal 850-900 kiloliter. “Stok saat ini lebih dari cukup,” kata Alexander.
Rivqy Abdul Halim bersyukur adanya pertemuan antara Pemkab Jember dengan petinggi Pertamina. “Saya menginisiasi supaya suplai BBM ke Jember tidak hanya melalui truk tangki, tapi bisa disuplai juga melalui kereta api,” katanya.
Dengan kereta api, suplai BBM ke Jember berasal dari Surabaya. “PT KAI menyampaikan ada terowongan dari Banyuwangi yang tidak bisa dilalui kereta besar,” kata Rivqy.
Menurut Rivqy, ada beberapa alternatif suplai menggunakan kereta api. “Bisa menggunakan depo (di Gebang) ini. Di Kecamatan Rambipuji ada lahan juga. Ini akan saya bawa ke Jakarta dan diskusikan dengan holding Pertamina, PT KAI, dengan Menteri BUMN. Semoga ini bisa jadi solusi,” katanya.
Pemilihan Rambipuji sebagai alternatif lokasi depo, menurut Rivqy, dikarenakan adanya regulasi buffer zone, yakni jarak antara tangki penyimpanan ke rumah warga kurang lebih 50 meter. “Jangan sampai kejadian di Plumpang yang meledak, warga jadi korban kembali,” katanya.
Pertamina menyampaikan kepada Rivqy bahwa depo BBM di Jawa Timur bagian selatan kurang merata. “Semoga ini bisa jadi solusi. Tidak hanya masyarakat Jember, tapi sekitar Jember. Jangan sampai ketika terjadi hal-hal seperti kemarin kemudian kita gagap, masyarakat jadi korban,” katanya.
Namun, Rivqy mengakui revitalisasi jalur kereta api untuk BBM tidak murah. “Ini bukan serta-merta membicarakan bisnis, tapi kemanfaatan rakyat,” katanya.
Sementara itu Bupati Muhammad Fawait berterima kasih dengan Rivqy. “Ini yang saya butuhkan, kolaborasi pemerintah daerah dan pusat,” katanya. [wir]






