Surabaya (beritajatim.com) – Angka prevelensi kelainan jaringan pada payudara wanita yang memicu kanker masih sangat tinggi. Meski begitu, menurut hasil riset yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, deteksi dini bisa menurunkan angka kematian akibat kanker payudara hingga 40 persen pada pasien usia 50-70 tahun.
Untuk itu, kaum hawa perlu mulai menyadari pentingnya deteksi dini. Juga berani mengambil langkah penanganan selanjutnya jika ditemukan kejanggalan pada organ penting wanita, terutama payudara.
Spesialis bedah umum dan payudara sekaligus founder MedicElle Clinic, dr. Sahar Bawaseer SpB mengatakan, banyak wanita yang takut memeriksakan diri ke dokter sekalipun menyadari adanya kejanggalan atau kelainan pada payudara mereka. Ini disebabkan rasa takut akan diagnosis yang erat dengan kanker.
“Kejanggalan yang terjadi di payudara memang banyak penyebabnya, tapi tidak semua berujung pada keganasan. Bisa jadi itu adalah jaringan jinak yang tidak menyebabkan keganasan,” ungkap dr. Sahar.
Salah satu jenis benjolan jinak payudara yang biasa muncul pada wanita usia remaja hingga awal 30-an adalah Fibro Adenoma Mama (FAM). Jaringan ini bisa dideteksi dini melalui USG ataupun Mamografi.
Tetapi, meski FAM tergolong benjolan jinak payudara yang tidak mengarah pada keganasan, banyak wanita muda yang justru jarang memeriksakannya karena takut banyak hal. Apalagi jika ternyata harus dilakukan pengangkatan.
“Biasanya ketakutan paling umum adalah pasien takut kalau nanti harus dilakukan tindakan pengangkatan yang artinya harus dibedah, karena biasanya pasien banyak yang masih single dan belum menikah atau punya anak, jadi khawatir akan mengubah bentuk estetika payudaranya,” jelas dr. Sahar.
Untuk itu, dr. Sahar menekankan semakin awal deteksi dini dan dilakukan tindakan tepat bisa mengurangi risiko yang dikhawatirkan.
“Meski FAM bukan suatu keadaan yang menyebabkan keganasan, tetapi dia memiliki sifat yang dapat bertumbuh, sehingga semakin lama diketahui dan semakin lama dilakukan tindakan maka akan semakin membesar dan penanganannya menjadi semakin rumit,” terangnya.
Saat ini sudah ada teknologi Minimally Invasive Breast Surgery (MIBS) yang memungkinkan tindakan minim risiko. Selain itu, tidak akan mengubah estetika payudara.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kanker-payudara”]
“MIBS atau Minimally Invasive Breast Surgery yang memungkinkan untuk mengambil tindakan dengan minim risiko dan menjaga estetika bentuk payudara aslinya,” tukas dr. Sahar.
MIBS sendiri merupakan prosedur pengambilan benjolan pada payudara dengan menggunakan alat yang bernama Vacuum-Assisted core Biossy (VAB). Saat ini, alat tersebut hanya tersedia di MedicElle Clinic dan satu-satunya di Indonesia.
Prosedur MIBS pun hanya melalui sayatan kurang dari 5 mm dan dengan bius lokal. Tindakan ini tidak membutuhkan rawat inap dengan hasil yang tidak berdampak pada estetika payudara.
MedicElle Clinic sendiri merupakan Women Health Care One Stop Service Clinic yang pro pada perempuan. Seluruh staf medisnya merupakan perempuan dan mengutamakan kenyamanan pasien perempuan.
“Ya MIBS di MedicElle Clinic akan membantu pasien-pasien FAM dengan maksimal benjolan 2-3 cm, oleh karenanya penting melakukan deteksi dini, semakin dini dikenali akan semakin berpeluang besar untuk dilakukan tindakan MIBS karena benjolannya masih kecil. Early Detection Save Life. Terlebih di MedicElle juga sangat pro perempuan dan ditujukan bagi pasien-pasien perempuan yang malu berobat ke dokter laki-laki,” ungkapnya. [adg/beq]






