Malang (beritajatim.com) – Sertifikasi fintech syariah yang pertama di Indonesia diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (FEB Unisma) dengan menggandeng Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI). Fintech syariah adalah perpaduan teknologi keuangan (financial technology) dengan prinsip keuangan Islam.
Dijelaskan Dekan FEB Unisma, Nur Diana SE, MSi, sertifikasi kompetensi fintech syariah sangat penting untuk menjembatani kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia (SDM) kompeten di bidang fintech syariah. Apalagi, Global Islamic Fintech Report 2022 yang dirilis Dinar Standard pekan lalu menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dari 64 negara, setelah Malaysia dan Saudi Arabia.
“Saat ini, ekosistem fintech syariah di Indonesia berkembang pesat sehingga kebutuhan SDM yang kompeten bidang Fintech Syariah sangat tinggi. Melihat peluang tersebut FEB unisma mengambil peran pertama untuk bekerjasama dalam sertifikasi fintech syariah,” jelas Diana, Selasa (30/7/2024).
Dijelaskan Diana, fintech syariah menjadi mata kuliah unggulan untuk memenuhi harapan industri keuangan syariah. Selain itu, lewat sertifikasi ini menjadi langkah awal yang baik untuk kerjasama yang lebih luas antara FEB Unisma dengan AFSI.
“Kerjasama antara kami dengan AFSI dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi mahasiswa dan dunia pendidikan pada umumnya. Kami harap lulusan bisa memanfaatkan sertifikasi ini untuk meraih kesuksesan di dunia kerja,” jelas Diana.
FEB Unisma dapat dikatakan kembali mencetak sejarah dengan Sertifikasi fintech syariah pertama di Indonesia ini. Hal itu menunjukkan komitmen FEB Unisma dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidang akademik, tetapi siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks dan digital.
Dekan FEB Unisma, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi dan SDM unggul bagi lulusan FEB UNISMA. Menurutnya, dunia kerja kini menuntut lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga punya sertifikasi yang diakui secara nasional maupun internasional.
“Fintech syariah adalah salah satu bidang yang berkembang pesat dan memiliki potensi besar di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu membekali lulusan Prodi Perbankan Syariah dengan sertifikasi di bidang fintech syariah. Ini langkah konkret kami untuk memastikan lulusan siap bersaing di dunia kerja yang digital,” ujar Nur Diana.
Direktur Eksekutif AFSI, Mahaning Riyana menyampaikan apresiasi atas komitmen FEB Unisma meningkatkan kompetensi digital para lulusannya. Mahaning menyebut, FEB Unisma menjadi mitra yang paling aktif dalam kolaborasi dengan AFSI sehingga sertifikasi fintech syariah pertama di Indonesia bisa terealisasi.
“Kami mengapresiasi komitmen FEB UNISMA yang selalu berinovasi dan berkolaborasi dengan kami. FEB Unisma bukan hanya fokus pada peningkatan kompetensi akademik, melainkan juga bekal praktis yang dibutuhkan di dunia kerja. Sertifikasi fintech syariah ini adalah salah satu buktinya bahkan mungkin ini adalah yang pertama di dunia,” ungkap Mahaning.

Dalam kesempatan ini Mahaning Riyana mengisi kuliah tamu yang bertajuk Facing Digitalization Challenges: The Vital Role of Human Resources in Islamic Fintech. Acara ini dihadiri mahasiswa dan civitas akademika FEB Unisma.
Mahaning menjelaskan tantangan dan peluang yang dihadapi industri fintech syariah di era digitalisasi. Ia menekankan bahwa SDM yang unggul dan berkompeten adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan tersebut.
“Digitalisasi bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia yang mengoperasikannya. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi SDM harus menjadi prioritas utama. Lulusan dengan sertifikasi fintech syariah memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan di pasar kerja,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sertifikasi ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan pengakuan atas kemampuan dan pengetahuan yang telah dimiliki oleh para lulusan. Sertifikasi ini mencakup berbagai aspek penting dalam fintech syariah, seperti regulasi, operasional, dan teknologi. (dan/but)






