Jember (beritajatim.com) – Persid, klub sepak bola Kabupaten Jember, Jawa Timur, terlalu lama bermain di kompetisi sepak bola liga terbawah. Saatnya berprestasi musim ini. Namun masalah finansial jadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi.
Persid pernah menjuarai kompetisi Divisi II (setara Liga 3) pada 2002. Namun mereka selalu gagal untuk menembus level tertinggi dalam piramida kompetisi sepak bola Indonesia. Bahkan tim berjuluk Macan Raung ini akhirnya terpaksa berada di level ketiga kembali akibat terjadinya sejumlah perubahan kebijakan model kompetisi dari PSSI.
Hal ini memunculkan keprihatinan Achmad Jainuri, mantan pemain dan pelatih Persid Jember. “Persid adalah tim kebangaan masyarkat Jember, dan tim tertua yang selama ini tetap bercokol di Liga 3. Kalau cara menanganinya seperti tahun-tahun sebelumnya, kita tetap akan sulit untuk naik kasta,” katanya, Minggu (25/6/2023).
Kompetisi Liga 3 Jawa Timur rencananya akan digelar pada Oktober 2023. Jainuri menyarankan pembenahan manajemen Persid segera. “Cari manajer yang benar-benar tahu lika-liku menangani sebuah tim dan harus punya wawasan luas soal Liga 3,” kata pelatih yang sukses membawa Jember United menjuarai Piala Suratin 2014 ini. Jainuri menilai, satu dari sekian penyebab kegagalan Persid selama ini untuk naik ke Liga 2 adalah manajer.
Jainuri mengingatkan, jumlah klub sepak bola Liga 3 di Jawa Timur adalah yang terbanyak di Indonesia. Ini memunculkan kompetisi ketat. “Ini harus diwaspadai. Cari pelatih yang mumpuni kalau punya target naik kasta Liga 2,” katanya.
Pelatih yang ditunjuk harus punya nama besar. “Kalau ada orang Jember yang dibutuhkan jadi asisten, silakan. Minimal kalau kita punya target ke Liga 2, ya harus berani mengontrak pelatih dengan nama besar, karena itu berpengaruh di tim, manajemen, dan lawan-lawan kita. Itu diperhitungkan,” kata Jainuri.
Jainuri juga menyarankan kepada Persid agar tak hanya merekrut pemain asal Jember. “Cari pemain-pemain luar Jember seperti Bandung atau Surabaya. Gambarannya Jember United dulu yang juara Piala Suratin. Kami mengambil pemain bukan hanya dari Jember. Sekitar 40 persen dari Jember. Tapi yang lain kami ambil dari luar,” katanya.
Persid seharusnya sudah mulai melakukan persiapan pada Juni ini. “Kalau kita cari pemain jadi ya no problem. Tapi uangnya ada tidak? Kita ingin striker mumpuni, ya tidak mau dia digaji Rp 5-6 juta. Liga 3 sekarang bukan seperti Divisi 2 dulu yang pokok bertanding dengan logo di dada Persid, pemain sudah senang setengah mati,” kata Jainuri.
Faktor penyebab kegagalan Persid Jember lainnya adalah masalah finansial. “Kita tidak punya uang. Kalau punya uang, jelas pada musim 2017 kita masuk ke Liga 2,” kata Jainuri.
Jainuti adalah pelatih Persid pada 2017 dan berhasil membawa klub tersebut menembus 12 Besar Liga 3 Zona Jatim. Saat itu, Persid gagal menembus semifinal setelah hanya menempati posisi posisi kedua klasemen Grup G Zona Jawa Timur.
Perjalanan Persid saat itu terseok-seok karena urusan pendanaan. Setelah kompetisi berakhir, gaji pemain dan ofisial klub sejak Februari hingga September 2017 belum terbayarkan. Saat itu Bupati Faida tak segera mencairkan dana hibah untuk Persid.
Gagal di kompetisi senior, Persid U17 justru berhasil menjuarai Piala Suratin Zona Jawa Timur tahun itu. Dilatih Fahmi Aminuddin, Persid U17 mengalahkan PSBK Blitar melalui adu penalti 6-5 (1-1) di final yang diselenggarakan di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (29/9/2017) malam. [wir]






