Surabaya (beritajatim.com) – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Surabaya masih menerapkan 25% kapasitas di sekolah masing-masing. Dispendik menyebut peningkatan persentase kehadiran akan dilakukan secara bertahap.
Tak hanya itu, pertimbangan ilmiah dari kacamata pakar epidimiologi juga menjadi acuan utamanya. “Kita kan tidak bisa berjalan sendiri. Kami senantiasa bergerak dan berkoordinasi dengan pihak lain,” kata Kepala Dispendik Surabaya, Supomo, Kamis (21/10/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”PTM”]
Saat ini, pihaknya lebih memprioritaskan keselamatan siswa-siswi saat pemberlakukan PTM. Artinya, harus menggunakan prinsip kehati-hatian untuk menghindari dan meminimalisir resiko. “Jadi hal yang paling utama adalah tidak lengah dan sedikitpun abai akan prokes,” tegasnya.
Kendati demikian, selama proses PTM berlangsung ia memastikan bahwa tidak ditemukan temuan kasus klaster sekolah sejauh ini. “Alhamdulillah tidak ada klaster sekolah. Ada pun satu atau dua itu ketika kita cek ternyata belum sampai PTM,” tandasnya.(asg/kun)






