Eduardo Galeano, seorang sastrawan Amerika Latin, dengan ringkas dan indah dalam bukunya Football in Sun and Shadow, mengimajinasikan sebuah gol dalam sepak bola tak ubahnya puncak hubungan seksual: orgasma (orgasme di akhir sanggama). “Gol adalah orgasma sepak bola. Sebagaimana orgasma, gol jarang terjadi dalam kehidupan modern.”
Dan saya bisa merasakan betapa benarnya Galeano saat menyaksikan pertandingan Liga 1 pekan 29 antara Persebaya melawan Semen Padang, di Stadion Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (28/11/2019). Persebaya mendominasi pertandingan, membombardir gawang Semen Padang yang dijaga Teja Paku Alam sejak menit awal. Namun hanya satu gol yang dicetak Diogo Campos pada menit 10.
Dua peluang matang sudah terjadi dalam lima menit awal. Aktornya duet David da Silva dan Diogo Campos. Namun, bola tak akurat atau bisa ditepis Teja. Permainan dari kaki ke kaki yang ditunjukkan Persebaya tak cukup ampuh merontokkan pertahanan Semen Padang. “Babak pertama kami punya tujuh peluang yang seharusnya masuk tapi tidak masuk, dan ini membikin anak-anak sedikit kecewa,” kata pelatih Persebaya, Aji Santoso.
Satu-satunya peluang yang berbuah gol yang dicetak Diogo tak lepas dari kejelian Alwi Slamat membaca pergerakan pemain berambut pirang itu. Diawali dari tendangan bebas Diogo, bola dihalau dengan kepala oleh pemain Semen Padang. Bola jatuh di kaki Alwi yang memberikan umpan lob ke Diogo yang berlari masuk ke kotak penalti tanpa kawalan. Tak ada yang menyangka Diogo bakal menyelinap dengan cepat, saat semua pemain Semen Padang memperhatikan hendak ke mana bola dioperkan Alwi.
Setelah itu, Persebaya praktis mendominasi. Para pemain Persebaya berani memasang garis pertahanan tinggi untuk mengintensifkan serangan ke gawang tim juru kunci tersebut. Semen Padang patut berterima kasih kepada Vanderley Francisco. Gocekannya pada menit 22 berhasil mengecoh beberapa pemain belakang Persebaya dan terakhir kiper Miswar Saputra.
“Dalam sepak bola, satu persen adalah lucky. Hari ini jujur kami tidak beruntung,” kata Aji. Keberuntungan memang sebuah misteri dalam sepak bola. Tak ada teori dasar dalam urusan ini, bahkan untuk menjelaskannya secara ilmiah. Hari itu, tiang dan mistar gawang Semen Padang bahkan menjadi pemain ke-12.
Menit 16, dalam sudut sempit, Da Silva melepaskan tembakan. Teja Paku Alam mencoba menepisnya. Bola menerabas tepisan itu, namun masih menghantam mistar gawang. Saat melawan Persipura, bola Da Silva bisa melesak masuk ke gawang dalam sudut sempit. Tidak kali ini.
Aji mungkin benar saat mengatakan, bahwa tidak ada yang salah dengan cara main Persebaya. Namun Aji tidak sepenuhnya tepat mengatakan Persebaya tidak beruntung. Sebagian kegagalan Persebaya mencetak gol ke gawang Semen Padang dikarenakan kerja keras Teja dan sebagian lainnya karena kurang tenangnya pemain sendiri. Ini urusan teknis yang harus dibenahi oleh Aji. Sebut saja peluang Diogo pada menit 40: Da Silva sudah lolos dari jebakan offside, mengoperkan bola kepada Diogo di depan gawang Teja. Dua pemain belakang Semen Padang sudah tertinggal. Namun Diogo malah mengincar awan.
Begitu juga pada menit 45+1, bola operan silang dari sisi kiri pertahanan Semen Padang berhasil diantisipasi dengan tandukan oleh Diogo. Namun lagi-lagi bola melambung. Keberuntungan? Saya lebih suka menyebutnya: ketidaktenangan. Sama dengan sejumlah peluang lainnya oleh Da Silva dan Alwi Slamat: bola tidak akurat sama sekali. Operan-operan pendek memang dibangun saat menyerang. Namun skema operan yang membangun serangan ini jauh dari kata cair. Akurasi beberapa kali meleset. Pengoper tidak bisa membaca pergerakan kawannya, atau mudah dibaca pemain bertahan lawan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”oryza”]
Hari itu, kerja keras pemain-pemain Semen Padang juga layak dipuji. Mereka mempertahankan setiap jengkal kotak penalti hidup dan mati. Menit 84, dua pemain harus jatuh bangun memblok bola tendangan Da Silva yang berada di posisi ideal. Menit 88, bola tendangan Hansamu Yama Pranata hanya bisa ditatap oleh Teja. Namun masih ada pemain Semen Padang di mulut gawang yang memblok bola.
Ketidakberuntungan tidak bisa terus-menerus menjadi dalih Persebaya jika gagal memetik kemenangan. Gary Player, pegolf Afrika Selatan, mengatakan: ‘the harder you work, the luckier you get’. Dengan kata lain, tanpa kerja keras tidak ada keberuntungan. Kerja keras dalam latihan dibutuhkan untuk menghadapi tim yang memiliki militansi bertahan seperti Semen Padang.
Tentu saja kecuali jika Persebaya adalah Si Untung, tokoh imajinasi dalam kartun Donal Bebek yang ditakdirkan selalu beruntung, bahkan pada saat terlihat sedang apes. Dan Persebaya tak butuh kesialan di lima sisa pertandingan musim ini. Jika Dewi Fortuna ada, maka ini saatnya untuk menculiknya dengan kerja keras. [wir/but]
Keterangan:
Menculik Dewi Fortuna saya pelesetkan dari judul lagu suporter Berni, Mencuri Fortuna.






