Mojokerto (beritajatim.com) – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1444 H banyak pelaku usaha musiman bermunculan di Mojokerto, salah satunya adalah penjual lampion untuk malam takbiran. Lampion tongkat ini diproduksi oleh pasangan suami istri Imam Syafi’i (36) dan Sri Wahyuni (36).
Warga Jalan Sumolepen, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini mulai memproduksi lampion tongkat sebulan sebelum bulan Ramadhan. Sementara penjualannya yang dilakukan saat menginjak bulan Ramadhan.
Pasangan suami-istri (pasutri) ini memproduksi lampion tongkat dengan beragam bentuk lucu kesukaan anak-anak. Dengan motif dan warna-warni lampu yang ditanam di bagian tongkat dan atas tongkat, lampion tongkat ini dijual dengan dua jenis.
https://beritajatim.com/gaya-hidup/durian-mrico-khas-mojokerto-rasanya-manis-dan-pahit/
Lampion tongkat dengan lampu di bagian atas Rp15 ribu dan lampu atas-bawah seharga Rp20 ribu. Namun bapak dua anak ini mengaku, permintaan lampion tongkat ramai saat pandemi dibanding kondisi normal seperti saat ini.
“Pandemi malah lebih banyak, enak pendapatannya banyak. Lumayan 50 persen penurunannya, pas tahun 2020 lalu besar, ini omzet turun. Padahal dulu takbir keliling saat pandemi di larang. Tidak tahu, ini jadi pertanyaan,” ungkapnya, Sabtu (8/4/2023).
Penjualan sejak membuka lapak di depan Pusat Grosir Sepatu (PGS) Kecamatan Kranggan, Kabupaten Mojokerto, antara 10-20 buah per hari. Imam menuturkan, jika melihat pengalaman sebelumnya, penjualan akan meningkat H-7 lebaran.
“Tidak menentu, 10-20 buah per hari. Ramai biasanya H-7. Tahun kemarin biasa sampai 50-60 buah per hari. Sebulan sebelum puasa sudah mulai produksi, berdua sama istri. Istri bagian melipit, saya bagian merakit. Sehari produksi 100 buah,” jelasnya.
“Awal puasa baru dikeluarkan, habis lebaran satu minggu terakhir jualan. Iya moment puasa dan lebaran. Tetap di sini jualannya dari dulu, ada juga pedangan lainnya yang ambil. Dijual di Mojokerto sendiri, seperti di Benteng dan Alun-alun. Luar kota tidak ada,” tuturnya.
Imam mengaku sudah 15 tahun menggeluti bisnis yang hanya di moment Ramadhan dan Lebaran tersebut. Meski memproduksi sendiri dan tongkat lampion produksinya diambil pedangan, ia juga membuka lapak sendiri.
“Saya jualan di sini, buka mulai pagi sampai malam. Iya ada stok kan produksinya sudah sebulan sebelum puasa tapi pulang jualan juga masih produksi. Saya belajar otodidak, lihat youtube. Motif dan warna sendiri. Modal awal sekitar Rp3 juta,” urainya.
Imam mengaku, pembeli kebanyakan dari Mojokerto sendiri. Pembelian banyak di jenis tongkat lampion dengan lampu di bagian atas. Meski harga lampu mengalami kenaikan tapi tidak berpengaruh pada harga jual tongkat lampion produksinya.
“Pembeli banyak beli yang lampu di bagian atas saja, perbedaannya hanya di bagian lampu. Satu lampu hanya di bagian atas dan satunya di bagian atas dan tongkat. Iya lampu harganya naik, untuk bahan lain tidak ada kenaikan. Tidak pengaruh ke harga jual, tetap harganya seperti tahun lalu,” pungkasnya. [tin]







