Surabaya (beritajatim.com) – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa perlindungan lahan pertanian dan kemudahan akses pembiayaan adalah fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur, Ibrahim, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Surabaya.
Menurut Ibrahim, meskipun Indonesia menghadapi tren proteksionisme global dan masalah rantai pasok, sektor pertanian tetap menjadi pilar utama stabilitas ekonomi. “Pertanian bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga pilar penting bagi stabilitas ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya.
Ibrahim menyoroti dua tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian. Pertama, masalah alih fungsi lahan yang terus menyusut. Saat ini, hanya sekitar 55% pemerintah daerah yang memiliki Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kedua, sulitnya petani mendapatkan akses pembiayaan. Sembilan dari sepuluh petani masih kesulitan mengajukan kredit karena prosedur yang rumit dan minimnya agunan.
“Produktivitas hanya bisa berkelanjutan jika petani memiliki lahan yang terlindungi,” kata Ibrahim. Ia menambahkan bahwa akses pembiayaan yang lebih sederhana dan terjangkau menjadi syarat agar petani dapat meningkatkan kapasitas produksi.
Jawa Timur dinilai memiliki peran vital dalam menopang pangan nasional. Provinsi ini menyumbang sebagian besar produksi gula, jagung, dan beras. Sekda Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menjelaskan bahwa meskipun sektor pertanian hanya menyumbang 11% PDRB, ia menopang 30,9% tenaga kerja. Karena itu, sinergi antara pertanian dan industri pengolahan sangat penting.
Untuk mendukung sektor ini, Pemprov Jawa Timur telah menyiapkan plafon kredit sebesar Rp174 triliun dan menyetujui tambahan anggaran Rp300 miliar untuk subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ibrahim memberikan lima rekomendasi utama untuk memperkuat sektor pertanian, yaitu: percepatan Perda LP2B, penguatan program intensifikasi, optimalisasi agroforestry, penyederhanaan akses kredit, dan menjaga momentum surplus pangan.
“Jika langkah-langkah ini dijalankan, produktivitas pertanian akan meningkat, ketahanan pangan makin kuat, dan daya saing daerah ikut terdongkrak,” pungkasnya.[rea]






