Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah untuk menekan arus modal keluar (cash outflow) yang saat ini mencapai 80 persen dari total perputaran uang Rp40 triliun per tahun.
Strategi hilirisasi ekonomi ini dibahas dalam pertemuan bilateral bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Jakarta pada Rabu (12/2/2026) guna memastikan nilai ekonomi ibadah haji memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha nasional dan ketahanan devisa negara.
Langkah ini dipicu oleh besarnya potensi ekonomi dari 221.000 jemaah haji dan lebih dari dua juta jemaah umrah Indonesia yang berangkat setiap tahunnya. Tingginya angka jemaah, termasuk dari kantong-kantong besar seperti wilayah Jawa Timur, selama ini belum diimbangi dengan dominasi produk dalam negeri dalam rantai pasok pelayanan di Arab Saudi, sehingga mayoritas dana jemaah justru mengalir ke produsen luar negeri.
“Pengelolaan haji harus dimaknai secara komprehensif. Tidak hanya sukses ritualnya, tetapi juga sukses membangun ekosistem ekonominya agar manfaatnya kembali kepada bangsa dan memperkuat pelayanan jemaah,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak dalam pertemuan tersebut.
Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) berencana mentransformasi asrama haji di berbagai daerah menjadi pusat logistik, pelatihan, dan inkubasi usaha. Pemanfaatan asrama haji sebagai etalase produk nasional diharapkan dapat mempermudah standarisasi produk UMKM sebelum masuk ke pasar internasional. Namun, Dahnil menegaskan bahwa misi besar ini memerlukan keterlibatan kementerian teknis lain di bawah orkestrasi Kemenko Perekonomian.
“Kami berharap Kemenko Perekonomian dapat mengorkestrasi kementerian dan lembaga terkait agar agenda penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah berjalan terpadu dan berdampak nyata,” tegas Wamenhaj.
Menanggapi gagasan tersebut, Menko Airlangga Hartarto menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur logistik di Arab Saudi, termasuk pendirian gudang (warehouse) atau pusat distribusi. Langkah teknis ini krusial agar pelaku ritel di Saudi dapat lebih mudah mengakses produk Indonesia, mulai dari sektor pangan hingga kebutuhan logistik lainnya.
Di sektor pangan, pemerintah telah memulai inisiasi ekspor beras premium, makanan siap saji (ready to eat), hingga bumbu pasta hasil kolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan Perum Bulog.
Selain perdagangan barang, pemerintah juga mengincar potensi devisa dari penerbangan kosong (empty flight) dengan memanfaatkannya sebagai angkutan logistik jemaah atau promosi tiket murah bagi wisatawan Timur Tengah menuju Indonesia.
Optimalisasi perputaran uang haji yang mencapai puluhan triliun rupiah ini ditargetkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan ibadah, tetapi juga menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dengan manajemen yang lebih profesional dan terintegrasi, Kemenhaj optimis kontribusi sektor haji terhadap PDB akan meningkat signifikan melalui penguatan rantai pasok global produk-produk nusantara,” tegas Dahnil. [ian]






