Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) melakukan langkah strategis dalam diplomasi budaya global dengan meresmikan Rumah Budaya Indonesia (RBI) ke-2 di Guangxi Normal University (GXNU), Guilin, Tiongkok.
Peresmian ini menjadi bagian penting dari inisiatif Globalizing UB yang mendorong internasionalisasi pendidikan dan kebudayaan Indonesia.
Peresmian RBI dilakukan langsung oleh Dekan FIB UB, Hamamah, Ph.D., dan Dekan Fakultas Pendidikan Budaya Internasional GXNU, Li Dongmei. Hadir pula Prof. Agung Sugeng Widodo selaku Direktur Direktorat Kerja Sama UB serta Dr. Anni Rahimah, Kasubdit Globalizing UB, yang mewakili Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc.
Mengusung tema ‘Interkoneksi Budaya antara Indonesia dan Cina’, Rumah Budaya Indonesia ini diharapkan menjadi jembatan interaksi yang memperkuat kerja sama antara dua negara, baik dalam aspek pendidikan maupun kebudayaan.
“Momentum ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi simbol kedekatan dan kepercayaan antara GXNU dan UB. RBI kami harapkan menjadi ruang interaksi sosial yang produktif dan kreatif,” ujar Hamamah, Ph.D., kepada awak media Selasa (27/5/2025).

Hamamah juga menambahkan bahwa RBI di GXNU bukan hanya memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Tiongkok, namun juga menjadi media pengenalan Universitas Brawijaya kepada lebih dari 1.800 mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di GXNU.
Dekan GXNU, Li Dongmei, menyambut hangat kehadiran RBI dan menyatakan bahwa inisiatif ini memperkaya atmosfer internasional kampus mereka.
“Kegiatan ini membuka jendela baru bagi mahasiswa Tiongkok untuk mengenal lebih dekat budaya Indonesia, serta menjadikan GXNU semakin menarik bagi pelajar internasional,” katanya saat acara yang berlangsung pada Jumat (23/5/2025)
Sementara itu, Ketua RBI UB, Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel, menjelaskan bahwa rumah budaya ini dirancang sebagai media edukasi interaktif yang menyampaikan narasi tentang keterhubungan budaya dua bangsa.
“RBI ini tidak hanya menjadi pusat informasi budaya, tetapi juga sarana edukasi yang menghidupkan dialog antarbudaya,” jelasnya.
Program Globalizing UB menjadi payung besar dari seluruh inisiatif internasionalisasi UB, termasuk pendirian RBI. Menurut Dr. Anni Rahimah, RBI adalah bagian penting dari upaya membangun global branding UB.
“Lewat diplomasi budaya seperti ini, UB membuka lebih banyak pintu untuk kerja sama akademik dan kebudayaan di masa depan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Prof. Agung Sugeng Widodo menegaskan bahwa kehadiran RBI di kampus yang memiliki kekuatan di bidang seni dan budaya seperti GXNU adalah langkah strategis. “Kami ingin mahasiswa dari berbagai negara bisa mengenal dan mencintai budaya Indonesia,” ujarnya.
Peresmian RBI di GXNU juga dirangkaikan dengan kegiatan open house selama sepekan. Rangkaian acara meliputi bazar kuliner, permainan tradisional Indonesia, workshop membatik, hingga pertunjukan seni dalam Malam Kebudayaan Indonesia pada Sabtu (24/5/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari Festival Kebudayaan Internasional ke-13 yang juga memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok.
Dengan diresmikannya RBI ke-2 di Tiongkok, setelah yang pertama diresmikan di Tianjin Foreign Studies University (TFSU) pada Mei 2024, UB semakin menunjukkan komitmennya sebagai pelopor diplomasi budaya dari Indonesia untuk dunia.
Program RBI ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi pilar penting dalam mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam ranah pendidikan, budaya, dan persahabatan global. (dan/ted)






