Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Tidak Ditangani Dinas

Warga Janggan Magetan Suntik Sendiri Sapinya yang Sakit

Magetan (beritajatim.com) – Toha Maksum (38) warga RT 10 RW 04, Dukuh Dagung, Desa Janggan, Poncol, Magetan, Jawa Timur resah.

Sebanyak 21 ekor sapi di kandangnya sempat terjangkit penyakit mulut dan kuku sejak dua minggu yang lalu. Bahkan, dia memilih menjual tujuh ekor sapi dengan bobot lebih dari 700 kilogram dan dipotong paksa.

Toha menyebut kalau sejak dua minggu sapinya terjangkit sudah ada yang sembuh total. Namun, masih ada beberapa sapi yang masih butuh penanganan. Selama dua minggu penuh dirinya sudah melapor ke Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, namun yang dia dapat hanya sebatas sosialisasi saja. Sementara untuk penanganan dari dinas terkait nihil.

Dalam dua minggu ini total sudah tujuh ekor sapi yang dia jual untuk dipotong. Yang terakhir, yakni sapi jenis Peranakan Ongole (PO) jantan berbobot 1.020 kilogram dia jual pada Kamis (9/6/2022). Sapi itu awalnya sempat ditawar Rp 120 juta ketika masih sehat. Namun, karena terjangkit PMK, dia terpaksa menjualnya. Sapi itu tak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri. Karena tidak tega melihatnya, dia pun menjual sapinya ke salah satu jagal dan hanya laku Rp 35 juta.

Kondisi sapi putih itu sempat viral di media sosial, sapi tersebut masih hidup namun karena tergeletak banyak mengira sapinya sudah mati. Namun, Toha menyebut kalau saat sebelum dia menjual sapi itu, kondisinya sudah membaik karena sapi itu sudah mau makan dan penyakit di mulutnya sudah sembuh. Namun, kondisi kakinya yang belum membaik sehingga sapinituntak bisa berdiri.

“Sejak awal sapi di kandang saya kena, tidak ada pihak dinas peternakan yang datang. Mereka hanya memberikan sosialisasi di kantor desa Janggan kapan hari itu. Setelah itu juga tidak ada yang datang ke kandang saya. Saya obati sendiri, saya beli obat sudah habis Rp 8 juta,” kata Toha pada beritajatim.com, Jumat (10/6/2022)

Dia mengungkapkan untuk obat-obatan dan vitamin, dia membeli secara mandiri di toko online. Harganya bervariasi, terakhir dia membeli seharga Rp 275 ribu per botol dengan kebutuhan sehari untuk seluruh sapinya butuh empat botol. Bahkan, dia terpaksa menyuntik sendiri sapinya karena tak mendapatkan respon penanganan dari dinas.

“Mau gimana lagi, kalau tidak segera disuntik nanti malah mati. Saya sendiri yang rugi, akhirnya saya terpaksa menyuntik sapi saya. Dinas tidak solutif, tidak ada dokter hewan yang ke kandang saya. Jadi mau tidak mau harus saya yang mengobati,” kata Toha.

Dia mengharap pemerintah Magetan segera melek dengan kondisi riil di lapangan. Khususnya di Desa Janggan yang memiliki populasi ternak terbanyak di Magetan. Total jumlah sapi di desa itu bisa lebih dari 2.000 ekor. Toha menyebut, dari jumlah itu total sudah 90 persen yang terjangkit PMK.

“Mulai dari peternak besar hingga peternak kecil. Khususnya banyak peternak kecil yang beli sapi dari hutang bank. Jatuh tempo dalam enam bulan, sementara kondisi seperti ini. Peternak kecil kasihan, kami harap ada keringanan cicilan untuk mereka. Dan untuk penanganannya juga harus intensif, tidak semua pemilik sapi berani menyuntik sendiri seperti saya. Kalau sudah seperti itu bagaimana, saya yakin dinas tak ada solusi,” kata Toha.

Terpisah, Nur Haryani Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan mengungkapkan jika sempat menonton video terkait kondisi sapi milik Toha. Dari hasil koordinasinya dengan Kades Janggan Hariyadi, sapi itu tidak mati dan sudah dijual ke salah satu jagal di Surabaya. Sapi tersebut pernah ditangani, tapi dia tak menyebut pihak mana yang menangani sapi itu.

“Sudah sembuh, tiba-tiba keseleo dan ambruk. Kondisi sapi sehat, belum mati. Akhirnya dibawa ke Surabaya karena sudah ditawar jagal di sana,” kata Nur. (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar