Lamongan (beritajatim.com) – Drama tari cerita ‘Danurekso Sang Duto’ ditampilkan dalam Pegelaran Seni dan Budaya yang digelar warga perantau Lamongan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Drama tari ini menyiratkan pesan tentang keuletan warga Lamongan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan, Siti Rubikah menyampaikan bahwa drama tari ini mengisahkan tentang Danurekso Sang Duto, seorang maling sakti yang tunduk dan menjadi santri Kanjeng Sunan Giri.
Rubikah menjelaskan, cerita drama tari ini sangat populer bagi warga Lamongan. Menurutnya, cerita ini juga berkaitan erat dengan tradisi dan budaya yang berkembang di Lamongan hingga saat ini.
Cerita ini diawali saat Danurekso diutus oleh Kanjeng Sunan Giri III untuk mengambil kerisnya yang tertinggal di rumah Mbok Mbarang. Danurekso yang taat kepada gurunya itu pun segera berangkat menuju rumah yang dimaksud, pada malam hari.
“Jadi, dahulu Kanjeng Sunan Giri melakukan lelono (mengembara) dan beristirahat di Desa Barang Kauman, Kecamatan Karangbinangun. Ketika singgah ini Kanjeng Sunan Giri bertemu dengan Dewi Asika atau dikenal oleh warga sebagai Mbok Rondo Mbarang,” kata Rubikah, Senin (26/6/2023).
BACA JUGA: Meriah! Warga Perantau Lamongan di Jabodetabek Adakan Pagelaran Seni dan Budaya
Akan tetapi, setelah berbincang dengan Mbok Rondo Mbarang, Sunan Giri lalu pamit undur diri. Tak disangka setibanya di Giri, keris milik sang Sunan tertinggal di balai gubug atau rumah Mbok Rondo. Dari situlah, sang Sunan lalu memerintahkan orang kepercayaannya yang juga santrinya yakni Danurekso untuk mengambil keris tersebut.
“Dengan menggunakan ilmunya, Danurekso berhasil mengambil keris Kanjeng Sunan. Namun Mbok Mbarang yang tak mengenali Danurekso itu langsung meneriakinya, karena dikira maling. Danurekso pun lari, tapi dia dikejar oleh sekelompok warga yang dipimpin oleh Joko Luwuk,” terang Rubikah.
Demi menyelamatkan dirinya dari amukan warga, sambung Rubikah, akhirnya Danurekso memutuskan untuk menceburkan dirinya ke kolam air yang dipenuhi ikan lele. Danurekso sembunyi dan tertutupi oleh ikan lele dalam kolam tersebut.

Namun kejadian itu tidak berlangsung lama. Usai keluar dari kolam lele, Danurekso kembali bertemu Joko Luwuk. Hingga pertarungan sengit antara keduanya pun tidak terelakkan. Pertarungan itu bahkan sampai mengganggu munajat Kanjeng Sunan Giri.
“Pertarungan itu dilerai oleh Kanjeng Sunan Giri. Kemudian beliau menyampaikan sejumlah wasiatnya,” beber Rubikah.
BACA JUGA: Polres Lamongan Persembahkan Tragedi Tambak Oso di Festival Ludruk Kapolda Jatim
Adapun wasiat Sunan Giri itu, menyebut tentang kerisnya yang bernama Mbah Jimat Luk Limo. Keris itu merupakan lambang dari kewibawaan seorang pamong atau pemimpin yang harus menjaga lima perkara dalam agamanya, termasuk menunaikan kewajiban sholat lima waktu.
“Wasiat selanjutnya, ikan lele yang menutupi Danurekso saat dalam pengejaran tersebut merupakan perlambangan budaya tolong-menolong, keuletan, kesabaran, dan kemakmuran dalam menjalani hidup di manapun tempatnya,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang berkesempatan untuk hadir dan menyaksikan drama tari Danurekso Sang Duto, bersama warga perantau Lamongan di TMII Jakarta ini berharap, pesan moral yang diperoleh dari drama tari tersebut bisa benar-benar dicerna dan diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.
Tak cukup itu, Bupati Yuhronur juga berharap, sektor pariwisata dan kuliner Lamongan yang terkenal berdaya saing ini dapat terus menggerakkan perekonomian Lamongan.
“Semoga kita semua bisa mengambil pesan moral yang tersirat dari drama tari ini. Ke depan, saya ingin sektor pariwisata dan kuliner yang sudah menjadi branding Lamongan dan mempunyai daya saing tersendiri, juga ekonomi yang lainnya, menjadi lokomotif yang menggerakkan perekonomian di Kabupaten Lamongan,” harapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pagelaran Seni dan Budaya ini digelar setiap tahun dan merupakan hasil kerjasama antara Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan dan warga perantau Lamongan di Jabodetabek.
Kegiatan ini berlangsung sukses dan meriah. Beragam kesenian tradisional khas Lamongan pun dipentaskan. Selain drama tari cerita ‘Danurekso Sang Duto’, kegiatan ini juga menyajikan campursari, tayub, hingga tari-tarian daerah. Selain itu, berbagai produk unggulan dan ekonomi kreatif turut dipamerkan. [riq/nap]






