Jombang (beritajatim.com) – Chorun Nascihin asal Jombang akhirnya bisa menunanaikan ibadah haji beneran. Itu dilakukan setelah pria kelahiran 4 Agustus 1962 ini tuntas menyelesaikan proses hukum di PN (Pengadilan Negeri) Sidoarjo.
Memang, kehidupan terus berjalan, nasib manusia tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan Choirun Nasichin, warga Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang. Berawal dari menjadi ‘haji nunut’ (haji numpang), Choirun akhirnya benar-benar menunaikan rukun islam kelima.
Bahkan hingga saat ini Choirun sudah dua kali ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Yakni, pada 1994 dan 2009. Selama dua kali menjadi tamu Allah itu dia tidak nunut lagi. Namun demikian, julukan haji nunut tetap melekat pada sosok Choirun. Tidak cukup itu saja, pada tahun 2005, Choirun juga pergi ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.
BACA JUGA:
Kisah ‘Kaji Nunut’ Asal Jombang, Naik Haji Bawa Uang Rp 54 Ribu
Choirun mengakui, meski tidak nunut lagi, namun selama tiga kali pergi ke Tanah Suci itu dirinya tidak pernah merogoh kocek sendiri. Semuanya gratis. Pertama, tahun 1994 dibiayai oleh H Thosim, pengusaha angkutan asal Tambak Osowilangun, Gresik. Kemudian tahun 2009, pergi haji bersama mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH. Sedangkan, saat umrah tahun 2005, Choirun ditraktir pengusaha asal Surabaya bernama H Budiono.
“Nah, sekarang saya sudah dua kali menjalankan ibadah haji. Artinya, saya sudah haji beneran. Tapi, julukan haji nunut ternyata tidak pernah surut. Sampai sekarang orang tetap menjuluki saya Choirun Si Haji Nunut,” ungkap pria kelahiran 4 Agustus 1962 ketika dihubungi beritajatim.com, Rabu (21/6/2023).
Choirun berkisah, sejak dirinya tertangkap ‘nggandol’ pesawat Boeing 737 milik Garuda yang mengangkut ratusan CJH (Calon Jamaah Haji), media massa ramai memberitakan. Nah, lewat pemberitaan itulah memantik banyak simpati dan empati dari masyarakat luas. Salah satunya adalah H Thosim, asal Gresik. Pengusaha angkutan ini kemudian menawari Choirun untuk pergi haji secara gratis.
BACA JUGA:
Ini Rahasia ‘Kaji Nunut’ Jombang Bisa Tak Terlihat saat Naik Pesawat
Karena tahun 1992 hingga 1993 Choirun masih menjalani proses hukum, ibadah haji tersebut baru bisa dilaksanakan pada April 1994. “Saat itu ongkos naik haji sebesar Rp 8 juta. Alhamdulillah saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Semua dibiayai oleh Pak Haji Thosim. Mungkin ini berkah dari aksi nunut yang saya lakukan,” kata Choirun mengenang.
Saat itu pula Choirun mengerti bahwa pergi ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah haji itu harus melalui proses. Mulai mendaftar, mengurus surat-surat, menjalani pemeriksaan kesehatan, tinggal di asrama haji, hinggal terbang ke Arab Saudi. Bukan sebaliknya, berangkat sendiri dari rumah kemudian naik pesawat tanpa tiket, tanpa paspor, seperti yang ia lakukan pada Mei 1992.
BACA JUGA:
Detik-detik ‘Kaji Nunut’ Jombang Hendak Dilempar dari Atas Pesawat
Peristiwa heboh itu terjadi ketika Choirun masih berumur 30 tahun. Saat ini Choirun berusia 61 tahun. Dia tidak lagi tinggal di Dusun Ngrumek. Tapi di Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Choirun kini memiliki kesibukan sebagai pembimbing haji dan umrah.
Meski bangga bisa naik haji sesuai proses, namun Choirun sempat malu. Pasalnya, para jamaah haji tetap menyapa dirinya dengan embel-embel haji nunut. “Awalnya saya malu dipanggil haji nunut, karena saya sudah menjadi haji beneran. Tapi sekarang tidak apa-apa, karena memang julukan itu sudah menjadi ‘trademark’ bagi diri saya,” ujar anak kedua dari pasangan Zainudin dan Siti Qofsah, ini. [suf/bersambung]
![Sudah Naik Haji Beneran, Choirun Jombang Tetap Dijuluki ‘Kaji Nunut’ H Choirun Nasichin (berkalung serban hijau) bertemu Gus Muwafiq dalam acara di sebuah perumahan di Sidoarjo belum lama ini. [Foto/Choirun untuk beritajatim]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/06/kaji-nunut1.jpg)





