Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Racun Kopi Mojokerto, Kondisi Korban Mulai Membaik

Korban, Ponitri (47) menjalani perawatan di Puskesmas Dawarblandong.

Mojokerto (beritajatim.com) – Setelah menjalani perawatan di Puskesmas Dawarblandong, kondisi korban Ponitri (47) terus membaik. Rencananya, pemilik warung di Dusun Kemuning, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini diizinkan pulang pada, Jumat (25/2/2022) sore.

Dokter Penanggungjawab UGD dan Rawat Inap Puskesmas Dawarblandong, dr Brama Syukri Perkasa mengatakan, sebelumnya pada, Kamis (24/2/2022) pihaknya mendapatkan laporan ada warga Dusun Kemuning, Desa Brayubrandong yang mengeluhkan mual-mual, muntah dan diare.

“Itu sebenarnya, beliau (korban Ponitri, red) tidak tahu penyebab kenapa kondisinya tiba-tiba seperti itu? Lalu, kami TRC Puskesmas Dawarblandong menanggani laporan warga tersebut segera membawa peralatan lengkap dan ambulance untuk ke lokasi. Di sana, kita lakukan pertolongan pertama,” ungkapnya.

Setelah dilakukan pertolongan pertama, masih kata dr Brama, pasien kemudian dibawa ke Puskesmas Dawarblandong untuk dilakukan perawatan. Setelah kondisi stabil dan pasien menjelaskan jika pasien usai meminum kopi pada, Kamis pagi. Kopi tersebut biasa dia buat di pagi hari sebelum melakukan aktivitas.

“Kira-kira jam 5 pagi, beliau (korban, red) membuat kopi untuk memicu semangat untuk bekerja. Tidak sampai minum habis, kira-kira dua teguk, ada pembeli sehingga beliau membuatkan kopi. Sekitar 60 menit sampai 90 menit, beliau (korban, red) merasa mual-mual, muntah-muntah, tidak lama diare,” katanya.

dr Brama menjelaskan, karena mengalami hal tersebut secara terus menerus sehingga korban lemas. Setelah menjalani perawatan di Puskesmas Dawarblandong, kondisi pasien terus membaik. Jumat pagi, kondisi pasien jauh lebih baik dari saat pertama kali datang ke Puskesmas Dawarblandong.

“Namun masih kami evaluasi, kami lihat kondisinya apakah bagus. Kita cek laboratorium, kalau misalkan terus stabil maka nanti sore sudah bisa pulang. Kalau secara mendadak itu bisa dikatakan sebagai detoksifikasi, kalau keracunan itu lebih dari satu orang. Keracunan massal,” jelasnya.

dr Brama menjelaskan, pasien sebelumnya tidak memiliki gejala apapun. Namun setelah minum kopi tersebut mengalami gejala mual, muntah dan diare. Pihaknya masih belum memastikan gejala yang dialami pasien tersebut berasal dari minuman yang sudah dikonsumsi pasien.

“Untuk korban satunya, kami sebelumnya tidak mengetahui korban yang sama dengan yang dirawat di sini. Karena dibawa ke sini (Puskesmas Dawarblandong, red) lebih awal dan semalam (Rabu malam, red) sudah mengalami keluhan yang sama. Diare, muntah-muntah, makanya kami tidak mendiagnosa sebagai keracunan makanan,” urainya.

Menurutnya, karena korban Nurhadi Wijaya (35) sudah merasakan gejala yang sama pada, Rabu (23/2/2022) malam. Kondisi tersebut berbeda dengan pasien Ponitri. dr Brama menjelaskan, jika pasien tidak mengalami gejala yang sama sebelumya sampai Kamis pagi usai minum kopi.

“Beda, kalau yang dirujuk itu kira-kira jam setengah 7 datang. Sempat dirawat sebentar, kami lakukan evaluasi dan sempat diare di sini (Polsek Dawarblandong, red). Tapi karena kondisinya menurun, tidak bisa diajak komunikasi sehingga perlu dirujuk. Kami tidak curiga sama sekali kalau keracunan,” tegasnya.

Karena kondisi Nurhadi Wijaya berbeda dengan dengan orang normal karena di usianya saat ini, masih terlihat lebih muda. Sehingga pihaknya menduga ada kelainan. Menurutnya, gejala yang dialami Nurhadi Wijaya lebih parah dibanding Ponitri sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Setelah kejadian tersebut, Unit Identifikasi Satreskrim Polresta Mojokerto melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sejumlah barang bukti diamankan dari lokasi kejadian, diantaranya teko, gelas dan kaleng isi bubuk kopi untuk dilakukan uji laboratorium. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar