Banyuwangi (beritajatim.com) – Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat menjadi salah satu lokasi bersejarah cikal bakal bagi berdirinya Kabupaten Banyuwangi. Di lokasi itu terdapat petilasan Prabu Tawangalun, Raja Blambangan.
“Petilasan ini merupakan suatu situs yang dulunya diyakini sebagai tempat pertapaan Prabu Tawangalun ketika memimpin Kerajaan Blambangan yang berpusat di Macanputih,” terang Irwan Hidayat.
Puing-puing bangunan benteng peninggalan Kerajaan Blambangan ditemukan di sejumlah desa di kecamatan ini. Salah satunya di Desa Macanputih, Gombolirang, Benelan Lor, dan desa sekitarnya.
Konon, situs ini dulunya merupakan sebuah hutan bernama Sudimara. Hutan ini kemudian dibuka, yang kelak menjadi Ibu Kota Kerajaan Blambangan.
Kemudian singgahlah Danureja sebagai raja berjuluk Prabu Tawangalun yang berkuasa pada 1655-1691. Dari kekuasaan Prabu Tawangalun inilah Blambangan ke masa puncak kejayaannya, bahkan mampu lepas dari kekuasaan Mataram dan Bali.
Selain petilasan ini, ada beberapa situs lain yang merupakan peninggalan masa kejayaan Kerajaan Blambangan. Khususnya di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat yang menjadi pusat pemerintahannya.
Awal terbentuknya kawasan kerajaan itu, Prabu Tawangalun sebelumnya melakukan pertapaan di Rowo Bayu, kaki Gunung Raung. Kemudian turun, dengan didampingi oleh seekor Macan Putih.
Berhentilah di sebuah wilayah itu kemudian membabat hutan dan dijadikan Kerajaan Blambangan. Hingga kini, daerah itu dikenal dengan Desa Macan Putih.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Banyuwangi”]
Berdasarkan hasil ekskavasi di Situs Macan Putih masih dapat ditemukan berbagai peninggalan sejarah masa itu. Di antaranya :
1. Struktur bata yang diduga kuat merupakan tembok ibukota Kerajaan dengan prakiraan luas 2,5 km persegi,
2. Bekas kanal,
3. Lokasi ngaben Raja Tawang Alun beserta 271 dari 400 istrinya yang ikut sati terbesar di Nusantara bahkan di India,
4. Artefak berupa tulang hewan, fragmen keramik dari Eropa dan Cina, serta berbagai gerabah, dan
5. Bangunan utama Candi Macan Putih terbuat dari batu gamping dan diduga kuat mirip dengan Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah karena berbentuk punden berundak dan digunakan oleh masyarakat ketika itu untuk tempat pemujaan kepada Siwa. (sumber : geopark-ijen.jatimprov.go.id)
Kini, setiap perayaan hari jadi Banyuwangi, warga setempat melakukan napak tilas ke situs tersebut. Hal ini sebagai salah satu untuk melestarikan dan mempelajari kembali sejarah Kerajaan Blambangan.
Bahkan, kisah Prabu Tawangalun terus didengungkan kepada para peserta agar mengenal kembali cerita dan kisah kejayaannya.
“Napak tilas ini mengajak anak muda agar mereka tetap mengenal sejarah Banyuwangi. Perlu mengajak mereka untuk menelusuri bekas kejayaan berdirinya bangunan peninggalan Kerajaan Blambangan seperti Petilasan Prabu Tawangalun ini,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. [rin/beq]






