Lamongan (beritajatim.com) – Inovasi Olahan Limbah untuk Usaha Ternak dan Asuransi Sapi Peternak Sejahtera (Ombak Si Petra) Kabupaten Lamongan berhasil meraih penghargaan Top 30 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Provinsi Jawa Timur tahun 2023.
Ombak Si Petra merupakan inovasi yang digagas oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Lamongan. Penghargaan Top 30 itu diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak kepada Lamongan di Halaman Jatim Park 3 Kota Batu.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan Moh. Nalikan mengungkapkan bahwa inovasi tersebut merupakan gabungan antara sektor peternakan dengan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dan petani di Kabupaten Lamongan.
“Ahamdulillah, Kabupaten Lamongan menerima penghargaan Top 30 Kovablik dari Pemprov Jawa Timur tahun 2023 atas Ombak Si Petra, yang merupakan inovasi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan,” ujar Nalikan, ditulis Jumat (24/11/2023).
Baca Juga: Tukang Parkir di Jombang Jualan Sabu Pakai Uang Pinjaman Koperasi
“Inovasi Ombak Si Petra sebenarnya merupakan kombinasi dua sektor antara peternakan dengan pertanian, untuk meningkatkan kesejahteraan bagi petani dan peternak di Kabupaten Lamongan,” imbuhnya.
Melalui inovasi Ombak Si Petra, tutur Nalikan, kondisi unsur bahan organik tanah di Lamongan yang kondisinya mulai mengkhawatirkan kini dapat berangsur-angsur dikembalikan kesuburan tanahnya.
Selain itu, sambung Nalikan, inovasi peningkatan kadar kesuburan tanah ini juga dilakukan dengan cara pemberian pupuk organik hasil olahan pupuk kotoran hewan.
“Ombak Si Petra ini dapat memberikan kebermanfatan, dari kotoran ternak dapat di buat pupuk, hasil pertanian atau sampah pertaniannya bisa dijadikan pakan ternak,” bebernya.
Baca Juga: Persibo Bojonegoro Siap Disanksi Jika Terjadi Keributan saat Pertandingan
Disebutkan pula oleh Nalikan, dari data DPKH Kabupaten Lamongan, terdapat sebanyak 29 kelompok se-Lamongan yang telah menerima bantuan sarpras pengolahan pupuk organik. Kelompok-kelompok tersebut tersebar di beberapa kecamatan.
“Ada dari Kecamatan Laren, Sukodadi, satu Solokuro, Paciran, Modo, Sugio, Kedungpring, Maduran, Bluluk, Brondong yang masing-masing satu kelompok. Lalu Mantup 6 kelompok, Tikung 3 kelompok, Sambeng 5 kelompok, serta Kembangbahu dan Ngimbang yang masing-masing 2 kelompok,” sebutnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, saat ini terjadi perubahan pandangan terhadap pemaknaan birokrasi.
Menurutnya, jika dulu birokrasi dianggap sebagai solusi pelayanan publik, maka kini seiring berjalannya waktu birokrasi dianggap sebagai penghambat. Namun dengan adanya berbagai inovasi, paradigma pun berubah. Pasalnya, birokrasi ada karena menjadi solusi masyarakat berdasarkan tematik tertentu.
“Salah satu kata kunci untuk merubah birokrasi menuju solusi adalah inovasi. Birokrasi mendorong inovasi itu akan menghasilkan solusi. Tapi kalau birokrasi yang kemudian stagnan, tidak akan menghasilkan solusi,” jelas Wagub Emil.
Baca Juga: Kampanye Terbuka: Ganjar Pranowo Ajak Jaga Kondisi Damai dan Hormat
Sementara itu, Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Kurniawan Hery Putranto mengatakan, terwujudnya pelayanan publik yang berkualitas ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Hal itu merupakan salah satu dari perubahan reformasi birokrasi.
“Terwujudnya pelayanan publik yang berkualitas dimana peningkatan kualitas pelayanan publik ini merupakan salah satu area dari 8 area perubahan pada reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi merupakan upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih efektif dan efisien guna mencapai good goverment,” pungkasnya. [riq/ian]






