Peristiwa

Biaya Pemakaman Capai 5 Juta di Ponorogo, Ternyata Begini Penjelasannya

Pemakaman Bibis di Kelurahan Kepatihan. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Beberapa hari ini, viral di media sosial Ponorogo tentang biaya pemakaman di Kelurahan Kepatihan Ponorogo. Dalam postingan tersebut menerangkan bahwa biaya pemakaman di kelurahan tersebut senilai Rp 5 juta.

Dibuktikan dengan adanya foto kwitansi senilai tersebut, dengan stempel Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kepatihan. Padahal sebelumnya, biaya pemakamannya hanya Rp 500 ribu. Sontak postingan itu menjadi pro kontra, sebab biaya segitu dinilai kemahalan untuk ukuran pembiayaan pemakaman.

Untuk menindaklanjuti kebenaran kabar itu, beritajatim.com mencoba konfirmasi kepada ketua LPMK Kepatihan Soerino yang rumahnya di Jalan Wibisono. Didampingi wakil ketua LPMK Kepatihan Setyawan, pengurus LPMK tersebut membenarkan adanya biaya pemakaman sebesar Rp 5 juta tersebut.

Namun, Setyawan menggarisbawahi biaya itu dibebankan khusus warga yang diluar Kelurahan Kepatihan. Sementara untuk warga yang ber-KTP Kelurahan Kepatihan tidak dipungut biaya sedikitpun. Kebijakan itu sebelumnya sudah dimusyawarahkan bersama warga dan juga dihadiri oleh Lurah Kepatihan.

“Memang biaya pemakaman bagi warga luar Kelurahan Kepatihan senilai Rp 5 juta. Kebijakan ini baru diberlakukan ya sejak bulan April ini. Kebijakan tersebut sudah melalui musyawarah warga Kepatihan,” kata Setyawan.

Dia menjelaskan jika Kelurahan Kepatihan itu hanya memiliki satu tempat pemakaman yang dinamakan pemakaman Bibis. Kebijakan itu diambil sebagai upaya untuk mengendalikan warga di luar Kelurahan Kepatihan yang ingin dimakamkan di pemakaman Bibis tersebut.

Sebab pemakaman tersebut kondisinya saat ini juga sudah padat. Dengan alasan tersebut, warga meminta agar pemakaman di Kelurahan Kepatihan bisa dikendalikan.

“Sebelumnya dengan biaya makam Rp 500 ribu, justru tidak bisa dikendalikan. Banyak warga diluar Kepatihan di makamkan di Bibis. Padahal kelurahan atau desa lain juga ada pemakamannya sendiri, bahkan ada yang punya dua atau bahkan lebih,” katanya.

Pemakaman Bibis memang berada di tengah kota, sehingga akses jalan menuju makam pun mudah. Selain itu, adanya sanak saudara yang lebih dulu dimakamkan disitu, dinilai menjadi faktor banyaknya warga di luar Kepatihan yang ingin dimakamkan di Bibis.

“Dengan kebijakan yang baru tersebut, diharapkan warga luar Kepatihan berpikir ulang untuk memakamkan di pemakaman Bibis dan bisa dimakamkan di kelurahan atau desanya masing-masing,” katanya.

Setyawan menambahkan bahwa kebijakan tersebut sebenarnya sudah diterapkan di kelurahan lain. Namun, dengan besaran biaya yang bervariasi dan berbeda. Biaya yang dikenakan kepada warga luar Kepatihan itu, nantinya digunakan untuk perawatan makam dan upah untuk juru kunci makam.

“Selain menaikan biaya pemakaman bagi warga luar Kepatihan, masyarakat juga menyepakati agar tidak ada pengkijingan di makam Bibis ini,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar