Peristiwa

Diskusi Gusdurian Lamongan

9 Warisan Pemikiran Gus Dur yang Patut Diteladani

Lamongan (beritajatim.com) – Lebaran tinggal menghitung hari, Komunitas Gusdurian Lamongan memilih untuk mengisi malam Ramadan dengan diskusi tradisi. Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya peningkatan toleransi antar umat beragama di Lamongan, Sabtu (8/5/2021) malam.

Kegiatan yang bertempat di Blosoo Kopi Desa Banjarwati Kecamatan Paciran itu mengambil tema “Menelaah Gus Dur dari 9 Nilai Utamanya.” Kegiatan dimulai pada pukul 20.00 WIB secara khidmat.

Koordinator Gusdurian Lamongan, Husnuz Zuhad, mengungkapkan bahwa diskusi gerakan tradisi ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan dan sebagai wadah diskusi pemuda lintas agama dalam meningkatkan toleransi.

“Diskusi ini untuk memperkaya pengetahuan, utamanya dalam menelaah pemikiran-pemikiran Gus Dur sebagai media menciptakan inspirasi untuk meneruskan perjuangan Guru Bangsa. Selain itu kami juga berharap Gusdurian bisa menjadi sarana bertemunya para pemuda lintas iman,” ungkap Zuhad

Diskusi ini berjalan dinamis. Hal itu seiring hadirnya lima pemantik sekaligus. Diantaranya H.M.Saifullah Abid, SS. selaku Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Lamongan, Pdt Ngatino S Th selaku Pendeta GKI Windu, M.Khoirul Fatih, M.Ag Dosen IAI Tabah, dan Ainul Fahruri S.Sos dari Aktifis Pantura Lamongan, serta Ahmad TH dari Muhibbin Gus Dur.

M. Saifullah Abid yang akrab disapa Gus Abid, saat mendapat giliran pertama menuturkan, Gus Dur merupakan sosok yang sanggup melampaui batas-batas manusia pada umumnya. Memahami Gus Dur tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi, namun harus dari berbagai sisi, seperti dari sisi filosofis, epistemologis, dan lainnya.

“Diperlukan semangat persaudaraan yang mendalam saat mengkaji 9 nilai utama Gus Dur, yang nantinya dari semua itu harus dijadikan landasan bagi Komunitas Gusdurian Lamongan,” tuturnya.

Pemantik kedua, Pendeta Ngatino mengatakan, sosok Gus Dur ini tidak hanya kiai. Cucu pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari itu juga pelopor semangat persaudaraan antar agama di Indonesia. Menurut ngatino, semua agama adalah saudara, namun tidak semua umat beragama paham itu, sehingga konflik antar agama sering terjadi di Indonesia.

“Gus Dur melalui 9 nilai utama mengingatkan akan pentingnya melihat manusia secara utuh, tanpa batasan kepercayaan, agama, budaya, jabatan, dan keturunan. Dengan cara itu persaudaraan antar umat agama akan terwujud,” kata Pendeta GKI Windu tersebut.

Sementara, Moh Khoirul Fatih, Dosen IAI Tabah Lamongan menyampaikan bahwa Gus Dur tidak hanya mengajarkan soal definisi agama melainkan deskripsi. Maksudnya Gus Dur itu tidak memandang agama dari segi teologisnya saja, namun menghadirkan Islam dengan menunjukkan perbuatan baiknya, dapat membantu, dan menolong minoritas.

“Perhatian Gus Dur kepada kelompok minoritas di Indonesia bahkan dunia itu memberikan pemahaman kepada generasi penerusnya bahwa pandangan dunia yang awalnya selalu mengutamakan aspek teologis perlu digeser menjadi sosiologis, dari sinilah semangat humanisme terwujud,” ujar Fatih.

Diskusi 9 nilai utama Gus Dur, lanjut Fatih, yang meliputi ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan tradisi itu sebagai upaya untuk menghidupkan tradisi diskusi para kawula muda.

“Sembilan nilai utama yang diwariskan Gus Dur seharusnya menjadi landasan bersikap dan berfikir bagi anak muda Indonesia agar mereka tidak kaku dalam mamahami agama. Sehingga mampu menjadikan agama sebagai sumber inspirasi bukan aspirasi,” imbuhnya.

Selanjutnya, Ainul Fahruri dari Aktivis Pantura Lamongan menyampaikan, 9 nilai utama Gus Dur dilihat dari perspektif sosiologisnya, mampu menjadi kritik mendalam terhadap pemikiran keagamaan yang sering bersikap eksklusif dari pada pluralis.

“Gus Dur berusaha memberikan warisan pemikiran yang secara sosiologis mengarah pada nilai-nilai sosial humanis, yakni bagaimana kita sebagai manusia itu bisa menghargai segala bentuk perbedaan, baik perbedaan epistemologis maupun teologis,” ucapnya.

Pemantik terakhir, Ahmad TH dari Muhibbin Gus Dur menerangkan bahwa Gus Dur adalah sosok teladan sekaligus inspirasi. “Gaya Gus Dur yang humor dan tidak kaku memberikan pesan bahwa tidak perlu merespon segala hal yang terjadi secara berlebihan, utamanya yang berkaitan dengan persoalan agama,” terangnya dalam diskusi tersebut. [riq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar