Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu hewan yang dikennal dengan Pangolin bermula dari kata penggulung. Selain itu, pangolin terkadang disebut trenggiling untuk seluruh satwa dalam ordo Pholidota.
Sebenarnya, nama trenggiling dikenal dalam Bahasa Indonesia yang berawal dari Bahasa Melayu dengan arti berguling-guling.
Bukan hanya itu, kata ini berkaitan erat dengan sistem pertahanan satwa nokturnal yang membuatnya dapat menggulung badan bak bola.
Trenggiling Punya Hari Perayaan Dunia
Secara resmi, UN Environment Program (UNEP) memperingati Hari Trenggiling Sedunia atau World Pangolin Day yang ditetapkan setiap hari Sabtu ketiga setiap bulan Februari. Tahun 2022 jatuh pada 19 Februari.
Peringatan hari trenggiling bertujuan sebagai bentuk upaya konservasi dalam memperkenalkan masyarakat global terhadap trenggiling sehingga meningkatkan kesadaran kolektif mengenai ancaman atas eksistensi spesies ini.
Lahir sebagai satu-satunya Mamalia Bersisik di Dunia
Faktanya, Trenggiling memiliki sisik yang terdiri dari keratin hampir sama dengan kuku manusia. Sebagai atu-satunya mamalia bersisik, sisik pada trenggiling memiliki zat yang sama kandungan dalam kuku dan rambut manusia.
Keratin adalah protein yang terdapat pada cula badak dan cakar beruang. Selain itu, Sisik-sisiknya berbentuk keras, besar, tersebar tumpang tindih sehingga menyumbang 20 persen bobot tubuh trenggiling.
Kemampuan Makan Semut Hingga 70 Juta Semut
Nama lain dari trenggiling adalah scaly anteaters. Ternyata, julukan ini berawal dari Julukan kemampuan dalam melahap semut dan rayap dengan jumlah besar.
Selain itu, Trenggiling mempunyai kemampuan dalam mendeteksi sarang semut atau gundukan rayap melalui indra penciuman yang tajam walaupun indra penglihatan kurang baik.
Sebenarnya, trenggiling mampu mengonsumsi 200.000 semut dan rayap dalam sehari maka dari itu, dalam setahun mereka mampu memakan lebih dari 70 juta.
Perhatikan ketika makan, trenggiling dapat menyempitkan lubang hidung dan telinga sehingga tidak mudah dimasuki serangga. Apalagi kelopak mata yang tebal mampu melindungi trenggiling terhadap gigitan semut.
Status Konservasi Trenggiling Semakin Punah
Spesies trenggiling tergolong dalam kategori IUCN Red List of Threatened Spesies sehingga membutuhkan perhatian konservasi.
Tiga trenggiling Asia yakni Trenggiling Cina, Trenggiling Sunda, dan Trenggiling Filipina sudah berada pada kondisi Kritis atau Critically Endangered (CR) sedangkan Trenggiling India berada pada statusTerancam atau Endangered (EN).
Lain halnya dengan dua dari spesies trenggiling Afrika yakni Trenggiling-Pohon Perut Putih dan Trenggiling-Tanah Raksasa yang sudah Terancam (EN), kemudian dua spesies trenggiling Afrika masuk ke dalam kategori Rentan atau Vulnerable (VU).
Status konservasi Trenggiling memang tidak lepas dari tingginya aktivitas perdagangan ilegal yang dapat mengancam keberadaan di alam liar. (PRD/ian)






