Jombang (beritajatim.com) – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2023, Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang menggelar berbagai acara, Minggu (22/10/2023).
Sekolah di sebelah barat area makam Gus Dur Tebuireng ini salah satunya menggelar olimpiade Shorof. Shorof adalah disiplin ilmu khas pesantren yang mengkaji perubahan kata dalam bahasa Arab.
Khoirul Huda, koordinator panitia mengatakan bahwa sebelum mengkaji literatur klasik berupa kitab-kitab kuning, makam ilmu shorof harus dikuasai terlebih dulu oleh santri. Dalam olimpiade itu, seleksi sudah dilakukan pada pekan sebelumnya.
“Diikuti oleh seluruh siswa dari semua tingkat. Bentuknya ujian secara tertulis. Lalu diambil sebanyak 24 siswa yang akan diuji pada hari ini,” kata Huda, panggilan akrab Khoirul Huda.
Antusias para santri mengikuti olimpiade ini sangat tinggi. Tidak heran setelah upacara HSN selesai, mereka masuk ke tempat lomba. Lokasinya sederhana. Terdiri dari beberapa ruang belajar, yang kemudian disulap menjadi ajang perlombaan.
BACA JUGA:
Ribuan Santri Tebuireng Jombang Mudik Berjamaah
Huda menambahkan, bentuk lomba adalah tanya jawab. Semacam cerdas cermat untuk menentukan siapa juaranya. Materi yang diujikan terkait perubahan kata secara etimologi (lughawy). “Termasuk juga nanti secara terminologi atau istilahy,” imbuhnya.
Pondok Salafiyah Syafi’iyah Seblak didirikan oleh KH M Ma’shum Ali tahun 1921. Kiai Ma’shum ada;ah ulama hebat dari Gresik dan menantu pertama KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. Setelah dinikahkan dengan Nyai Khoiriyah.
Kiai Ma’shum merupakan tokoh ilmu shorof di Nusantara. Karyanya di ilmu shorof berjudul Al-Amtsilah al-Tashrifiyah. Hingga sekarang menjadi referensi wajib di pesantren Nusantara. Bahkan juga dijadikan sumber kajian di Masjid Al-Azhar Kairo Mesir.
Sementara itu, Kepala MA Seblak Budi Susilo menjelaskan bahwa olimpiade shorof salah satu rangkaian peringatan HSN. Sebelumnya sudah ada kirab dan besok dilanjut dengan musabaqoh hifdzil Quran.
BACA JUGA:
Tunaikan Haji, Santri Tebuireng Gowes Jombang-Makkah
Dirinya mengakui para santri antusias mengikuti olimpiade shorof. Ini mungkin karena baru pertama kali digelar. Sehingga bisa menginspirasi pondok-pondok lainnya. “Semoga ke depan lahir para ahli shorof dari Pondok Seblak,” pungkasnya.
Lantas apa hadiah bagi pemenang lomba? Hadiah yang diperebutkan banyak ragamnya. Mulai tropi, piagam penghargaan dan uang pembinaan. “Tapi yang paling terkesan itu sudah bisa lolos 24 finalis, meski belum juara,” ujar Dimas Aftakur Rizki, salah satu peserta.
Hal senada diungkap Asma Fauziyah. Santri asal Kediri ini menuturkan baru pertama kali mengikuti olimpiade shorof. “Karena pendiri Pondok Seblak ini kan memang terkenal dengan karyanya dalam ilmu shorof,” ujar santri berkacamata ini. [suf]






