Surabaya (beritajatim.com) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025 di SDI Al Azhar Kelapa Gading Surabaya menjadi momentum konkret pembentukan karakter dan pelestarian budaya. Dalam kegiatan bertajuk “Menyatukan Warna, Merajut Asa, Berkreasi Tanpa Batas”, siswa kelas 3 diajak membatik jumputan bersama komunitas disabilitas dan pembatik profesional.
Kegiatan ini dirancang mengintegrasikan nilai inklusi, seni budaya, dan pengembangan kreativitas anak sejak dini. Sekolah bekerja sama dengan UPTD Disabilitas Berkarya yang mendampingi penyandang disabilitas agar tetap produktif dan mandiri di tengah masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi semangat dan kreativitas anak-anak dalam menghasilkan karya batik jumputan mereka sendiri. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga menanamkan pemahaman akan pentingnya melestarikan budaya bangsa sejak dini,” kata Kepala SDI Al Azhar Kelapa Gading Surabaya, Zahrotul Mufidah, Jumat (2/5/2025).
Wakil Kepala Sekolah, Zuanita Shofia Ade Kurnia, menambahkan bahwa pelibatan komunitas disabilitas menjadi bukti nyata penerapan nilai empati dan penghargaan terhadap keberagaman.
“Kami berharap anak-anak belajar untuk menghargai setiap insan dan terdorong untuk bersikap lebih baik, penuh empati, dan terbuka terhadap keberagaman,” ujar Zuanita.
Selain praktik teknik membatik, anak-anak juga dikenalkan pada sejarah dan filosofi batik jumputan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Proses belajar dimulai dari mengikat kain, mencelupkan warna, hingga mengeringkan hasil karya. Hasil batik yang telah jadi dipamerkan dan rencananya akan dijual.
“Seluruh keuntungan akan disalurkan melalui program sosial Alazka Care,” tambah Zuanita.
Pihak sekolah berharap pembelajaran kontekstual seperti ini dapat menjadi agenda tahunan yang menanamkan semangat berkarya sekaligus menumbuhkan nilai-nilai Islami, nasionalisme, dan penghargaan terhadap kebudayaan.
“Dengan cara ini, kami memperlihatkan bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tapi juga pembentukan karakter dan penghargaan terhadap kekayaan budaya dan keberagaman sosial,” tandas Zahrotul Mufidah. [asg/beq]






