Lamongan (beritajatim.com) – Jebloknya Performa Persela Lamongan sangat berdampak pada menurunnya pendapatan tim berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut. Hal itu terlihat dari anjloknya hasil penjualan jersey pada musim ini.
Diketahui, selama berkompetisi di Liga 1 Persela tampil kurang meyakinkan. Tim kebanggaan masyarakat Lamongan ini harus beberapa kali menelan pil pahit kekalahan dan tersungkur ke Liga 2. Tidak dapat dipungkiri, hal ini sangat berpengaruh terhadap daya beli merchandise klub.
Kepala Divisi Bisnis dan Marketing Persela, Rizal Jamhari mengungkapkan, penurunan penjualan jersey ini mulai terasa saat memasuki triwulan kedua, tepatnya sejak Persela turun kasta.
“Store semenjak Persela turun ke Liga 2 ini, (penjualan jersey) di Q2 (quarter 2) sudah turun 50 persen dari musim sebelumnya,” kata Rizal, Jumat (28/10/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”persela-lamongan”]
Tak hanya itu, Rizal menambahkan, kondisi tersebut kemudian diperparah dengan penundaan kompetisi, lantaran imbas dari tragedi kanjuruhan. Bahkan, hingga kini belum ada kepastian kapan kompetisi bakal dilanjutkan kembali.
“Apalagi sekarang liga mandek, ini juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Rizal menyatakan, kini pihaknya harus bekerja lebih keras agar penjualan jersey Persela tidak terus merosot. Upaya itu salah satunya dengan melakukan penjualan secara proaktif.
“Banyak langkah di belakang layar yang dikerjakan untuk minimal menjaga kestabilan nilai transaksinya. Entah itu ke fans secara langsung atau di luar lingkungan Persela,” tutup Rizal.[riq/ted]






