Paris (beritajatim.com) – Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Eropa terus mengukuhkan langkah dalam upaya pelestarian kebaya sebagai warisan budaya dunia.
Pada 27 Februari, rombongan PBI Eropa dari berbagai negara seperti Swiss, Prancis, Irlandia, Irlandia Utara, dan Skotlandia mengunjungi kantor UNESCO di Paris.
Dipimpin oleh Christiana Streiff, kunjungan ini disambut langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk UNESCO sekaligus Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia, Satrya Wibawa.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai topik penting terkait kebaya menjadi bahasan utama, termasuk proses pengesahan di UNESCO serta strategi jangka panjang untuk menjaga eksistensi kebaya di era modern.
“Partisipasi diaspora Indonesia, terutama komunitas seperti PBI Eropa, memiliki peran krusial dalam memastikan bahwa kebaya tetap hidup dan diakui sebagai simbol identitas nasional,” ujar Satrya Wibawa.
Ia menambahkan bahwa UNESCO memiliki proses ketat dalam menetapkan warisan budaya dunia, sehingga dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan.
Lebih dari sekadar aspek administratif dan teknis, diskusi juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem berkelanjutan bagi kebaya.
Pendidikan kepada generasi muda, promosi kebaya secara internasional, serta integrasinya dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci agar kebaya tidak sekadar dikenang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga terus relevan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun non-formal.
Kunjungan ini semakin mempertegas bahwa budaya Indonesia memiliki tempat istimewa di dunia internasional. Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas diaspora, dan organisasi budaya seperti PBI Eropa, upaya pelestarian kebaya diharapkan semakin kuat dan mendapatkan pengakuan global.
Menyusuri Jejak Indonesia di Paris
Sebagai bagian dari kunjungan mereka, anggota PBI Eropa juga menjelajahi beberapa tempat yang menjadi simbol keberadaan budaya Indonesia di Paris.
Salah satunya adalah Restoran Djakarta Bali, restoran Indonesia pertama di kota ini yang telah berdiri sejak 1978.
Restoran ini didirikan oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Kuba, A.M. Hanafi, dan kini dikelola oleh putrinya, Nina Hanafi.
Keberadaan restoran ini tidak hanya menjadi tempat menikmati kuliner khas Nusantara, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional.
Selain Djakarta Bali, PBI Eropa turut mengunjungi Toko Teh Imah dan Restoran Makan-Makan, dua usaha kuliner yang dimiliki oleh diaspora Indonesia di pusat kota Paris.
Langkah ini merupakan bagian dari dukungan PBI Eropa terhadap perkembangan ekonomi komunitas diaspora di luar negeri.
“Kami percaya bahwa semakin banyak restoran dan usaha kuliner Indonesia di dunia, semakin besar pula peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia,” ungkap salah satu anggota PBI Eropa.
Dengan semangat kebersamaan, PBI Eropa berkomitmen untuk terus menggaungkan budaya Indonesia di mancanegara, tidak hanya melalui kebaya, tetapi juga lewat berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya, termasuk kuliner.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa diaspora Indonesia memiliki peran besar dalam memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya bangsa di pentas global. (ted)






