Surabaya (beritajatim.com) – Pada abad ke-15, kata inokulasi memiliki arti mencangkok tunas (atau bagain lain dari sebuah tanaman) kepada tanaman lain untuk menciptakan tanaman baru.
Kata inokulasi sendiri berasal dari bahasa Latin, inoculare, yang memiliki arti mencangkok atau menanam, yang merupakan turunan dari kata benda Latin untuk mata atau tunas yaitu oculus.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai menggunakan kata inokulasi untuk semua hal yang dapat ditaman, secara literal dan figuratif. Sebagai contoh, menanamkan ide kepada pikiran orang lain. Itulah mengapa, pada saat dokter-dokter Inggris mulai bereksperimen dengan menanamkan patogen cacar kepada pasien yang tidak tertular di abad ke-18, mereka menyebut proses tersebut sebagai inokulasi.
Proses yang sudah sejak lama dilakukan di Afrika dan Asia itu, meliputi memindahkan sebagian dari luka cacar kepada luka terbuka yang dimiliki orang sehat, sehingga sistem imun yang dimiliki orang tersebut bisa belajar bagaimana menangkis penyakit tersebut tanpa harus menderitanya.
Karena Variola adalah nama virus yang menyebabkan cacar, proses inokulasi juga biasa disebut sebagai proses variolasi.
Kemudian, pada tahun 1970-an, seorang dokter yang berasal dari Inggris dengan nama Edward Jenner, mempopulerkan sebuah teori, yang sudah banyak diketahui oleh para peternak, bahwa eksposur terhadap cacar sapi juga dapat membantu sistem imun orang-orang dalam menghadapi cacar.
Karena virus yang menyebabkan cacar sapi memiliki nama vaccinia (dari kata latin, vacca, yang memiliki arti sapi, Jenner memberi nama proses menginokulasi orang-orang dengan bagian dari cacar sapi sebagai vaksinasi. Dengan kata lain, kata vaksinasi pada awalnya hanya berarti menyuntikkan cacar sapi ke dalam tubuh sebagai bentuk perlindungan dari penyakit cacar.
Akan tetapi, karena inokulasi berkembang dan dilakukan untuk mengeradikasi penyakit-penyakit selain cacar, kata inokulasi dan vaksinasi (dan juga kata turunannya) juga memiliki perkembangan arti.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pengetahuan-populer, kesehatan”]
Pada awal abad ke-20, orang-orang menyebut kedua proses tersebut dengan mengacu pada berbagai hal, dari anthrax hingga demam alergi serbuk bunga. Karena sebelumnya inokulasi memiliki arti spesifik untuk memindahkan patogen melalui lesi kulit dan bukan melalui suntikan, semprot hidung, dan lain-lain, terkadang kata tersebut hanya digunakan untuk situasi yang memiliki arti demikian saja.
Akan tetapi menurut standar modern, mengatakan seseorang diinokulasi dengan suntikan juga bukan hal yang salah. Inokulasi memiliki arti yang cukup luas. Sementara itu, vaksinasi hanya digunakan untuk mendeskripsikan sebuah proses yang dilakukan untuk melindungi diri dari penyakit tertentu.
Sementara itu, imunisasi biasanya digunakan sebagai sinonim dari vaksinasi dan inokulasi, lebih tepatnya kata ini digunakan untuk mendeskripsikan proses yang terjadi setelahnya, di mana sistem imun yang dimiliki mulai membentuk kekebalan terhadap suatu penyakit. [dwp/bjo]






