Bondowoso (beritajatim.com) – Suasana riuh penuh tawa terdengar di Balai Desa Gubrih, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Kamis (13/11/2025).
Sejumlah emak-emak tampak antusias mengikuti kegiatan verifikasi dan pembinaan Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Sebagian peserta bahkan membawa anak-anak mereka yang bermain di lantai balai desa, sementara para fasilitator memandu jalannya kegiatan edukatif.
Dalam sesi pembelajaran, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok diminta menempelkan gambar di papan dan menyusun urutan sebab-akibat.
Seperti gambar nyamuk, sampah, tangan kotor, hingga orang sakit. Kelompok lain menanggapi hasilnya, menciptakan suasana interaktif dan penuh canda.
Melalui cara sederhana dan menyenangkan ini, para ibu rumah tangga diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim.
Desa Gubrih sendiri telah meraih predikat Desa Sehat Iklim sejak 2024, berawal dari keberhasilannya sebagai Desa Berseri tingkat Provinsi Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Bondowoso, Agus Winarno, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjawab tantangan global dalam pengurangan risiko perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
“Perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah, malaria, ISPA, dan diare. Karena itu, perlu ada upaya nyata dari tingkat akar rumput melalui pendekatan partisipatif,” ujarnya.
Program DEKSI, lanjut Agus, menjadi langkah konkret sektor kesehatan dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Pedoman DEKSI disusun sebagai acuan bagi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip ketahanan iklim bidang kesehatan di tingkat lokal.
“Melalui implementasi pedoman ini, kami berharap terbentuk desa yang tangguh, sehat, dan berkelanjutan. Ini bagian dari komitmen Kementerian Kesehatan dalam mewujudkan sistem kesehatan yang berketahanan iklim,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Gubrih, Abdul Bari, menegaskan komitmen pemerintah desa dalam melanjutkan program peduli lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
“Dari 75 kepala keluarga yang diverifikasi secara acak, kami memastikan seluruhnya memenuhi kriteria lima pilar Desa Sehat Iklim. Manfaatnya sangat dirasakan, karena bisa mencegah penyakit sejak dini seperti ISPA dan malaria,” ungkap Bari.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Desa Gubrih kini menjadi contoh nyata bagaimana edukasi sederhana bisa menjadi pondasi penting dalam menciptakan lingkungan sehat dan tangguh menghadapi perubahan iklim. (awi/ian)






