Gresik (beritajatim.com) – Setelah mengalami insiden kebakaran, fasilitas smelter milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik kini telah sepenuhnya diperbaiki.
Smelter single line terbesar di dunia ini kembali beroperasi dan tengah memasuki fase ramp-up atau peningkatan kapasitas produksi secara bertahap. Operasional ini menjadi momentum penting dalam mendorong hilirisasi mineral dan memperkuat industri nasional.
Sebagai bentuk pengawasan dan dukungan terhadap proses tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral melakukan inspeksi mendadak ke lokasi smelter.
“Kami telah menerima laporan dan melihat langsung di lapangan bahwa perbaikan telah selesai dan operasi sudah dimulai, bahkan dengan kapasitas yang melebihi 40%. Kami mengapresiasi PTFI atas keberhasilan,” ujar Elen Setiadi selaku Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Perekonomian, Minggu (22/6/2025).
Elen menegaskan pentingnya akselerasi hilirisasi mineral agar selaras dengan visi Presiden Prabowo dan target nasional menuju kemandirian industri. “Kedatangan kami ke PTFI Gresik ada beberapa hal teknis yang kami inginkan. Yakni memastikan proses ramp-up hingga 100% dan tidak ada kendala,” urainya.
Lebih lanjut, Elen menyebut bahwa pihaknya melalui Kementerian ESDM akan terus memperkuat pengawasan teknis untuk mengantisipasi hambatan produksi. “Laporan di lapangan terus kami pantau sampai proses produksi,” ungkapnya.
Menanggapi kunjungan tersebut, Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan pemerintah dalam mendukung program hilirisasi nasional.
“PTFI sebagai perusahaan tambang terintegrasi dari hulu hingga hilir berkomitmen mendukung penuh program hilirisasi sumber daya mineral yang ditetapkan pemerintah,” paparnya.
Jenpino menambahkan, proses perbaikan smelter rampung lebih cepat dari jadwal. Seharusnya smelter mulai beroperasi kembali pada pekan ketiga Juni 2025, namun dapat difungsikan kembali sejak pertengahan Mei 2025.
“Smelter beroperasi dijadwalkan mulai pekan ketiga Juni 2025, namun proses perbaikan berhasil diselesaikan lebih cepat sehingga smelter beroperasi lebih cepat yakni pertengahan Mei 2025,” imbuhnya.
Saat ini, smelter tengah berada dalam tahap peningkatan kapasitas, dari 40% dan ditargetkan mencapai penuh 100% pada Desember 2025. Kembali beroperasinya fasilitas ini menjadi penanda penting dalam transformasi industri pertambangan nasional. Selain itu, ini juga sejalan dengan roadmap menuju Indonesia Emas 2045 yang menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi. [dny/suf]






