Surabaya (beritajatim.com) – Hebohnya fenomena flexing menjadi salah satu hal yang semakin viral di media sosial. Banyak orang yang menganggap hal ini menjadi sesuatu yang penting.
Nyatanya, di China ada grup khusus influencer wanita yang menampilkan gaya hidup mewah setiap hari walaupun semuanya hanya fiktif belaka. Ternyata, mereka patungan dan bergantian menggunakan produk mewah hanya untuk dipamerkan di media sosial.
Sedangkan kasus influencer muda Indonesia yang melakukan flexing dengan jargon “Murah banget!” itu semua hanyalah bualan belaka. Tapi, apa yang membuat fenomena flexing semakin banyak orang dilakukan bahkan viral? Ini beberapa alasannya:
Adanya Kebutuhan Psikologi Terhadap Pengakuan
Banyak orang melakukan flexing supaya mereka lebih percaya diri. Secara psikologi, mereka butuh pengakuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa seseorang akan lebih diakui jika memiliki kondisi finansial yang tinggi. Dalam artian, semakin kaya seseorang, maka orang lain akan memandang kita lebih baik.
Sebenarnya hal ini dapat dijadikan sebagai personal branding pada pekerjaan tertentu seperti bisnis atau publik figur. Tujuannya unutk menyakinkan partner bisnis supaya dapat bekerjasama. Namun, kalau hal ini hanya untuk pengakuan dalam pergaulan apakah penting?
Masalah Kepribadian Terhadap Kejiwaan
Penyebab lainnya ada pada kepribadian seseorang yang punya narsistik dan histrionik.Narsistik berarti kecenderungan merasa paling diantara yang lainnya. Biasanya mereka menunjukkan dengan cara memamerkan segala sesuatu. Sedangkan histrionik berarti kecenderungan mencari perhatian. Salah satu contoh yang dilakukan dengan flexing barang-barang mahal untuk menarik perhatian banyak orang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”viral”]
Kehidupan yang Penuh dengan Tekanan Sosial
Tanpa disadari lingkungan merupakan salah satu faktor yang membentuk diri kita. Ketika berada pada lingkungan orang kaya, besar kemungkinan ada perasaan tertekan saat lkita tidak selevel dengan mereka sehingga muncul rasa rendah diri.
Tekanan sosial biasanya berawal dari cara seseorang memandang kita rendah saat tidak sanggup mengenakan barang yang kebanyakan dari mereka gunakan. Namun, tekanan sosial dapat berasal dari diri sendiri. Mungkin orang-orang di sekitar kita tak mempermasalahkan kehidupan kita yang tidak setara, hanya saja perasaan dari diri sendiri yang kurang percaya dirilah penyebabnya. (PRD/ian)





