Malang (beritajatim.com) – Prof. Dr. Ibrohim, M.Si., Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM), mengungkapkan bahwa pembelajaran sains di sekolah seringkali dijelaskan seperti pembelajaran sejarah, padahal seharusnya sains diajarkan dengan pendekatan scientific inquiry. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan berkelanjutan terhadap profesi guru sains.
Ibrohim menjelaskan bahwa hakikat dari pembelajaran sains mencakup tiga hal. Pertama, pembelajaran sains mencakup pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan produk sains. Kedua, sains merupakan cara berpikir dan bekerja. Ketiga, sains juga mencakup sikap ilmiah, yaitu sikap yang tidak hanya mempercayai satu sumber informasi.
“Untuk mencapai hakikat tersebut dalam pembelajaran, perlu dilakukan pengembangan profesionalisme guru sains melalui komunitas belajar seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan melibatkan dosen dari Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan, seperti Universitas Negeri Malang (UM),” ungkapnya, ditulis Rabu (6/9/2023).
Menurut Guru Besar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UM ini, salah satu pendekatan yang efektif dalam pembelajaran guru adalah “lesson study for learning community” (LSLC). LSLC adalah model pembelajaran guru yang kolaboratif dan berkelanjutan dengan prinsip kolegialitas untuk membangun komunitas belajar.
BACA JUGA:
Lewat Gerakan Cerdas Memilih, Dosen FIS UM Malang Usul Cara Baru Kampanye
“Pendekatan ini diadopsi dari Jepang, yang disebut sebagai ‘jugyo kenkyu,’ dan telah dikembangkan di dunia pendidikan Indonesia sejak tahun 2004 hingga saat ini,” jelas Prof. Ibrohim dalam pidato pengukuhan dengan judul ‘Pengembangan Keprofesian Guru Sains Melalui Komunitas Belajar dalam Mendukung Pendidikan Abad Ke-21.’
Untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalisme guru di sekolah atau komunitas belajar, konsep model tripartit digunakan, yang melibatkan kolaborasi antara dosen dari Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK), guru di sekolah, dan dinas pendidikan daerah. Ketiga pihak tersebut bekerja sama untuk menciptakan guru-guru yang profesional.
BACA JUGA:
Guru Besar UM Malang: Masyarakat Jawa Miliki Aporisma ‘Weruh Sadurunge Winarah’
“Dengan pendekatan belajar guru berbasis komunitas, kita semua mendapatkan manfaat. Guru di sekolah mendapatkan bimbingan dari dosen LPTK sebagai ahli. Bersama-sama, mereka dapat mengembangkan teori pedagogi baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Teori ini akan menjadi alat untuk mempersiapkan calon guru di LPTK sesuai dengan tuntutan masa kini,” tambahnya.
Prof. Ibrohim bersama dengan empat Guru Besar lainnya, yaitu Prof. Dr. Tri Kuncoro S.T M.Pd., Prof. Dr. Hanik Mahliatussikah S.Ag., M.Hum., Prof. Dr. Muntholib S.Pd M.Si., dan Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd., diresmikan dalam sebuah upacara pengukuhan pada Rabu, 6 September 2023, di GKB A19 lantai 9 UM. [dan/beq]






