Surabaya (beritajatim.com) – Program Studi (Prodi) Teknologi Multimedia Broadcasting Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menyerahkan modul pembelajaran kepada Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya, Rabu (12/10/2022).
Modul pembelajaran ini merupakan karya mahasiswa dan dosen Prodi Multimedia Broadcasting yang terdiri dari sejumlah video animasi yang di dalamnya terdapat tema pengenalan huruf, bentuk, warna dan lain sebagainya untuk anak-anak usia dini. Modul ini dapat diinstal di beberapa jenis gadget dan PC.
Dalam video ini anak-anak akan belajar lebih mudah dengan adanya peraga dan bantuan video animasi yang menampilkan beberapa contoh nyata dalam keseharian. Tak hanya itu, dalam video juga memuat beberapa soal dan kuis sebagai sarana latihan belajar, sehingga anak-anak akan terbiasa dengan bentuk soal ujian.
Tak hanya modul, turut diserahkan pula sejumlah sarana belajar mengajar, di antaranya papan whiteboard, tikar, meja lipat, buku dan alat tulis, hand sanitizer, masker, alat peraga, peta, dan tablet.
“Sejak 6 tahun yang lalu mendapat dukungan dari PENS terutama beberapa adik mahasiswa yang turut andil sebagai pengajar di sini. Kami sangat berterima kasih juga atas hibah dan bantuannya untuk komunitas kami yang memang membutuhkan banyak dukungan dalam mengajar anak-anak pinggiran,“ ujar Dwi Ariyani, Ketua Komunitas Pelajar Mengajar sekaligus penggiat pengajaran anak usia dini.
Dwi menjelaskan, tujuan komunitas ini adalah dapat membantu anak-anak yang mengalami kendala dalam pembelajaran. Total ada 3 lokasi di daerah Kenjeran yang menjadi pusat pengajaran, dan di tiap lokasinya terdapat antara 20-30 anak dengan total hampir 90 anak yang dibimbing. Dan, karena keterbatasan pula, terkadang beberapa orang tua sengaja tidak memasukkan anak-anak mereka ke PAUD, melainkan langsung ke Sekolah Dasar.
“Di pinggiran Surabaya masih ditemui beberapa anak yang sudah kelas 5 dan 6 ternyata masih belum lancar membaca. Ketika kami telusuri ternyata memang anak-anak ini menemui kendala dalam belajar. Untuk itu kami berusaha mengatasi kendala-kendala tersebut, seperti anak-anak yang kurang bisa fokus untuk belajar. Lalu ada pula anak-anak yang perlu belajar secara visual, dan ada pula yang butuh diterjemahkan dengan sederhana atau simpel,” terang Dwi.
Sementara itu, Novita Astin, dosen sekaligus pengembang modul ini berharap modul dapat memberi manfaat pada proses belajar mengajar di Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”its”]
“Belajar seharusnya menjadi saat yang paling menyenangkan untuk anak-anak. Melalui modul ini, kami berusaha mensupport kegiatan Komunitas Pelajar Mengajar dalam memberikan bimbingan kepada adik-adik yang tinggal di area pinggiran Surabaya,” harapnya.
Untuk diketahui, hambatan lainnya dalam memberikan pengajaran kepada anak-anak ini adalah tidak adanya ruang khusus untuk anak-anak, sehingga biasanya proses belajar mengajar berlangsung di pinggir jalan selain juga harus memperhatikan kondisi cuaca. [ipl/but]







