Surabaya – Pagi di Jalan Rungkut, Surabaya, terasa belum lengkap tanpa aroma kopi dari gerobak Kopi Sejuta Jiwa yang mangkal tak jauh dari pinggir jalan.
Di balik kemeja sederhana dan senyuman ramah, berdirilah Pak Iwan penjual kopi yang tampak biasa. Tapi siapa sangka, di balik kesederhanaan itu, tersimpan kemampuan yang tak terduga. Pak Iwan fasih dalam dua bahasa asing, Inggris dan Arab.
“Mahasiswa sering kaget waktu saya jawab mereka pakai bahasa Inggris,” ujarnya sambil meracik kopi. “Padahal saya memang suka belajar bahasa.”
Pak Iwan memulai perjalanan belajarnya sebagai santri di sebuah pondok pesantren, di mana ia dituntut menggunakan bahasa Arab dan Inggris saat proses belajar mengajar berlangsung.
Namun, awalnya bukan hal yang mudah bagi Pak Iwan. Ia mengaku sempat memilih diam selama tiga bulan karena belum bisa berbahasa asing. “Teman-teman saya sudah lancar bicara, saya cuma bisa diam,” kenangnya.
Sampai suatu hari, seorang ustazah menghampirinya dan mulai mengajaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Dari situ, perlahan-lahan, Pak Iwan diberi ruang untuk belajar dan berkembang. Ia mulai berani mencoba, menghafal kosakata, meniru percakapan, dan yang paling penting, tidak lagi takut salah.
Kini, bukan hanya dua bahasa asing yang ia kuasai. Pak Iwan pun sedang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin.
“Saya juga penasaran dengan bahasa mandarin karena teman saya dari medan berbicara dalam bahasa hokkian” katanya sambil tertawa.
Kemampuan bahasa ini ternyata membantu Pak Iwan dalam pekerjaannya. Ia pernah menjadi ojek langganan seorang bule, yang setiap hari ia antar-jemput ke kampus. Bahkan, ia sempat bekerja dengan orang Amerika dari USA yang sedang menetap di Indonesia.
Kini, sebagai sales Kopi Sejuta Jiwa, Pak Iwan tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga menyapa pelanggan dari berbagai latar belakang.
Ia percaya bahwa kemampuan bahasa membantunya membangun koneksi, bahkan sekadar dari obrolan singkat di pinggir jalan. Pesan Pak Iwan untuk anak muda yang saat ini sedang belajar bahasa Inggris “Intinya pede aja, berani ngomong aja dulu.”kata Pak Iwan.
Kisah Pak Iwan menjadi pengingat sederhana namun dalam. Kita diajarkan untuk tidak menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya.
Di balik seragam penjual kopi, ada tekad belajar yang kuat, kisah jatuh bangun, dan kemampuan luar biasa yang tidak semua orang tahu.
Dan setiap pagi, di tengah hiruk-pikuk kota, Pak Iwan berdiri sebagai bukti bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja bahkan dari segelas kopi.
Penulis: Olivia Budiman dan Brigitta Snezana Navali Angel Putranto
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






