Surabaya (beritajatim.com) – Jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim mengadakan kunjungan silaturahmi ke PW Muhammadiyah Jawa Timur.
Para pimpinan dua ormas yang menjadi representasi Islam moderat di Indonesia, membahas isu-isu strategis dalam menghadapi Kebangkitan Islam pada milenium kedua, khususnya bagi NU yang akan menapaki Satu Abad pada tahun 2026.
Jajaran PWNU dipimpin KH Abdus Salam Shohib (Gus Salam), yang juga Ketua Panitia Satu Abad NU, hadir didampingi Dr Hasan Ubaidillah (Wakil Sekretaris PWNU), Ir H M Amin Mujib dan H Rasidi (keduanya Wakil Bendahara PWNU).
Rombongan diterima langsung Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, KH Saad Ibrahim di kantornya, Jalan Kertomenanggal Surabaya, Jumat (22/7/2022).
Dalam keterangannya, Gus Salam menegaskan, pihaknya mengadakan silaturahmi terkait kegiatan Kick Off dalam rangkaian Peringatan Satu Abad NU, yang akan digelar di Tugu Pahlawan Surabaya pada 28 Juli 2022. Dalam kegiatan rangkaian Peringatan Satu Abad NU menghadirkan tema ‘Harmoni, Kolaborsi dan Inovasi’.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang ini, selaras dengan tema dimaksud tentu NU tak akan berjalan sendirian dalam menyukseskan segala aktivitasnya di masyarakat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”muhammadiyah”]
“Maka dengan silaturahmi dengan jajaran pimpinan PW Muhammadiyah, akan menunjukkan wajah Islam yang selalu mengedepankan tali silaturahmi dan ukhuwah atau persaudaraan,” tutur Gus Salam, yang merupakan cucu Rais Aam PBNU (1971-1980), KH Bisri Syansuri ini.
Dan, dikenal luas dalam NU selalu mengedepankan tiga ukhuwah. Yakni, Ukhuwah Wathoniyah (Persaudaraan sesama bangsa), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaran sesama Islam) dan Ukhuwah Basyariah (Persaudaran sesama umat manusia), yang ditanamkan para pendiri NU sejak tahun 1926.
“Alhamdulillah, pertemuan berlangsung gayeng dan sangat akrab. Antusiasme dalam mengukuhkan kerukunan dua ormas Islam moderat di Indonesia, akan menjadikan kekuatan dalam NKRI. Silaturahmi semacam ini, telah menjadi bagian dari laku para pimpinan NU dan Muhammadiyah di masa lalu,” tutur Gus Salam.
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur ini mengingatkan, kekuatan silaturahmi antara KH AR Fachruddin di Pondok Pesantren Tebuireng dan mampu mengulur waktu Salat Tarawih. Sehingga, ada guyonan pada saat itu, santri-santri Tebuireng berhasil di-Muhammadiyahkan saat ngimami Salat Tarawih pada bulan Ramadan itu.
Terkait acara Kick Off, Panitia Satu Abad NU mengajak dukungan PW Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya. Bahkan, yang penting, pihaknya meminta ada narasi dari PW Muhammadiyah soal Satu Abad NU, saat hadir dalam acara Kick Off nanti.
Gus Salam mengingatkan, adanya perbedaan antara NU dan Muhammadiyah merupakan keniscayaan. Tetapi, pihaknya punya komitmen bersama untuk mengukuhkan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan saling menghargai sesama muslim.
Dalam pertemuan tersebut, berhasil disepakati kesepahaman untuk melanjutkan pembicaraan tentang isu-isu strategis. Disadari pula, perlunya menjalin kerja sama menghadapi Kebangkitan Islam pada milenial kedua, antara NU dan Muhammadiyah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pwnu-jatim”]
Terkait acara Kick Off Harlah Satu Abad NU, dia menjelaskan bahwa kegiatan ini akan banyak melibatkan partisipasi kaum milenial. Hal itu dimaksudkan untuk mengenalkan NU khususnya nilai-nilainya kepada generasi penerus dengan cara mereka. Dalam arti memformulasikan acara yang kira-kira disukai dan menarik perhatian kaum milenial.
“Karenanya, kami akan mengemas acara sesuai dengan tema besar yaitu harmoni, kolaborasi, dan inovasi. Ada beberapa skema dan acara yang belum pernah dilakukan oleh PWNU Jawa Timur. Pertama ada penampilan ISHARI milenial dari SMK Walisongo Jabung, Malang,” tuturnya.
Bila selama ini, ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) terkesan bagi kalangan tua, kali ini menghadirkan siswa-siswa di lingkungan LP Maarif NU. Kesenian khas NU yang terus dirawat, dan ternyata juga diminati bagi kaum milenial.
Selain itu, acara ini juga diramaikan dengan Tupal Fashion Night yang akan menampilkan model profesional serta gus dan ning untuk memperagakan busana.
“Tupal Fashion Night akan mengangkat karya desainer pesantren yaitu Ning Ficky. Busana tersebut juga akan diperagakan oleh gawagis dan nawaning seperti Gus Ahmad dan Ning Sheila, Gus Amak dan istri serta yang lainnya,” jelasnya.
Ada yang menarik juga, panitia menghadirkan berbagai elemen masyarakat untuk memberikan suguhan kegiatan khas NU. “Seperti paduan suara yang menyanyikan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan akan ditampilkan oleh Polrestabes Surabaya yang pesertanya berbagai macam agama. Kemudian, qori’ dan sari tilawah berasal dari kalangan TNI. Jadi, kami berkolaborasi dengan semua elemen,” tuturnya.
Dia menambahkan, acara ini membawa misi keseimbangan hubungan antarumat beragama. Untuk itu, dalam Kick Off Harlah Satu Abad NU, pihaknya mengundang perwakilan lintas agama.
Bahkan, menurut dia, ada penampilan yang disuguhkan dari kelompok lintas agama. Seperti barongsai untuk menunjukkan bahwa bagaimana umat non-Muslim mengapresiasi perjalanan Satu Abad NU. Selain itu, dukungan dari PW Muhammadiyah sebagaimana dilakukan silaturahmi jajaran Panitia Satu Abad NU ke kantor PW Muhammadiyah tersebut. [tok/suf]








