Malang (beritajatim.com) – Lailatul Fithriyah Azzakiyah, SHU, M.Pd.I., atau akrab disapa Mbak Ela, menggagas metode tahfidz Al-Qur’an secara tematik. Berkat kreasinya ini, Ela melenggang ke Agama Islam Award Tingkat Nasional menjadi wakil Jawa Timur (Jatim).
Mbak Ela menceritakan, tahfidz Al-Qur’an secara tematik karyanya dimulai dari tema kisah yang mudah diingat dan disukai. Tahfidz Quran Tematik (TQT) dengan jargon “Insya Allah hafal dan paham” dibuat per tema.
“Penggagas mengumpulkan ayat yang berkaitan dengan tema tertentu. Dimulai dari kisah yang sering didengar seperti kisah nabi, orang-orang shalih, binatang, kejadian alam, hingga sains dan teknologi,” ucap Ela, Rabu (5/6/2024).
Dengan begitu, peserta program tidak hanya sekedar menghafal, tetapi juga dengan pemahaman makna ayat yang dihafal. Itulah yang menjadikan metode ini mudah diterima dan disukai semua usia, mulai usia dini hingga lansia.
“Program TQT telah diterapkan di beberapa sekolah seperti MTS Khadijah Malang, SD Aisyiyah Kota Malang, dan Paud Dinnov Kediri. Saya juga mengampu kelas Ngaji Kitab Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, perkumpulan ibu di sekitar Dau Malang, dan program TQT internasional via daring yang diikuti oleh peserta berbagai negara,” kisahnya.
Program ini telah mengantongi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sejak 2016. Ela menjelaskan bahwa filosofinya dimulai dari yang mudah, mulai dari yang disuka, dan mulai dari yang dekat.
TQT mengadopsi teori pendidikan modern seperti multiple intelligences, teori belahan otak, dan super memory system. Sementara itu, target yang dicapai dari program ini adalah memahami kandungan surat, paham arti dan makna ayat, pengayaan kosakata bahasa arab, dan ada kesan dan motivasi yang dibangun bersama peserta.

Program TQT sebagai metode pemberantasan buta makna Alquran ini berhasil mengantarkan Mbak Ela menuju Penyuluh Agama Islam Award 2024 tingkat nasional. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Kamis (23/5/2024) menetapkan delapan penyuluh agama se-Jatim yang lolos dan siap dikirim ke tingkat nasional.
Delapan orang tersebut adalah Lailatul Fithriyah Azzakiyah (Kabupaten Malang), Moh. Mahin (Kabupaten Probolinggo), Ni’matul Khoiriyah (Kabupaten Tulungagung), Bambang Utomo (Kabupaten Bojonegoro), S. Imroatul Ulfiyah (Kota Mojokerto), Arif Samroni (Kabupaten Blitar), Habibur Rohman (Kabupaten Lamongan), Marsidi (Kabupaten Malang).
Setelah lolo seleksi berkas seperti portofolio penyuluhan selama dua tahun terakhir, video dan karya tulis ilmiah, diambillah tiga besar kabupaten yang presentasi di hadapan juri. Tahapan tes wawancara terakhir Penyuluh Agama Islam Award 2024 ini dilaksanakan di Hotel Southern Surabaya.
“Terima Kasih kepada Kementrian Agama sebagai penyelenggara PAI Award. Ini menjadi apresiasi sangat berharga bagi para penyuluh di kecamatan yang konsisten melakukan pemberdayaan pada masyarakat akar rumput,” ucap Ela.
“Pada keluarga besar kementrian Agama provinsi Jatim, kabupaten Malang dan kecamatan Dau juga saya haturkan terimakasih setinggi-tingginya atas support, doa, kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada saya hingga berada di titik ini,” lanjutnya.
Syarif Hidayatullah, pegawai Kemenag Kota Batu, pun turut mendukung Lailatul Fithriyah dalam ajang ini. “Program yang diusung Mbak Ela ini unik dan setau saya baru beliau yang mengembangkan. Itulah mungkin salah satu yang menjadikan beliau terpilih mewakili jatim ke tingkat nasional,” jelasnya. (dan/but)






