Jember (beritajatim.com) – Susilo Bambang Yudhoyono sempat mencuitkan mimpinya di akun Twitter @SBYudhoyono, 19 Juni 2023. Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menafsirkan mimpi itu sebagai harapan politik.
Yudhoyono mengawali cuitannya dengan kalimat: ‘Saya bermimpi, di suatu hari Pak Jokowi datang ke rumah saya di Cikeas untuk kemudian bersama-sama menjemput Ibu Megawati di kediamannya. Selanjutnya kami bertiga menuju Stasiun Gambir.’
Lalu Yudhoyono melanjutkan, “Di Stasiun Gambir, sudah menunggu Presiden Indonesia Ke-8 & beliau telah membelikan karcis kereta api Gajayana ke arah Jawa Tengah & Jawa Timur. Karena masih ada waktu, sejenak kami berempat minum kopi sambil berbincang-bincang santai.”
“Setelah itu, kami bertiga naik kereta api Gajayana yang siap berangkat ke tujuan. Di perjalanan, kami menyapa rakyat Indonesia dengan hangat. Rakyat yang pernah kami pimpin dengan penuh kesungguhan hati. Memimpin bangsa yang tak pernah sepi dari tantangan.”
“Sampai di Solo, Pak Jokowi dan saya turun dari kereta. Pak Jokowi kembali ke kediamannya, saya terus ke Pacitan dengan bus. Sedangkan Ibu Megawati melanjutkan perjalanan ke Blitar utk berziarah ke makam Bung Karno.”
“Mimpi SBY itu bukan diartikan sebagai SBY bermimpi atau hasil mimpi SBY. Tapi, sebuah impian SBY yang sarat visi, sinyal teguran kepada Jokowi dan Megawati untuk menikmati sisa hidup di kampung halaman. Tidak ikut campuri regenerasi siklus demokrasi,” kata Iqbal, Minggu (25/6/2023).
Iqbal mengibaratkan cuitan SBY itu seperti pidato tokoh demokrasi Martin Luther King, pada 28 Agustus 1963 di Lincoln Memorial, Washington DC, Amerika Serikat. Saat itu, King juga mengawali pidatonya dengan ‘I have a dream, saya punya mimpi’. “Pidato King itu semacam energi harapan perubahan untuk bangsa Amerika yang bebas dari diskriminasi, antirasialis dan tegaknya keadilan,” katanya.
“Sementara cuitan SBY sejatinya lebih pada makna energi harapan SBY, agar tiga mantan Presiden Indonesia yang masih hidup ini menikmati sisa hidupnya jadi negarawan di kampung halaman. Bukan malah ikut cawe-cawe tergiur ambisi melanggengkan jerat dominasinya mengatur-atur pergantian kekuasaan,” kata alumnus Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia ini.
Iqbal melihat dari perspektif komunikasi politik, tak ada satu pun kata, frasa, dan kalimat di cuitan SBY yang bermakna atau dapat dimaknai sebagai konfigurasi koalisi antara Demokrat dan PDI Perjuangan. “Justru kalau halus akal budi, halus rasa sukma, makna cuitan SBY lebih pada ajakan kepada sesama mantan presiden, untuk menjadi guru bangsa. Jadi teladan pada anak bangsa bahwa para mantan penjaga istana memlih jalan pulang kembali ke kampung desanya,” katanya. [wir]






