Jember (beritajatim.com) – Saat semua orang menilai dukungan Khofifah Indar Parawansa bakal berdampak signifikan terhadap pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan presiden, pengamat politik dari Universitas Jember di Kabupaten Jember, Muhammad Iqbal, justru sebaliknya.
Iqbal menilai Khofifah memang akan berperan penting dalam menggaet suara untuk Prabowo – Gibran. Namun peran itu tak sebesar dan sesignifikan yang diperkirakan banyak orang untuk mendorong perolehan suara mereka yang sedang macet pada kisaran 40 persen di sejumlah survei.
Iqbal mengatakan, Khofifah bukan peserta pilpres. “Posisinya sebatas dewan pengarah dan juru kampanye saja. Dia juga terikat regulasi yang membatasi ruang dan waktu geraknya berkampanye. Sementara total masa kampanye Khofifah hanya 10 hari dari sisa tiga pekan sebelum masa tenang pemilu,” katanya, Minggu (14/1/2024).
Fenomena kemenangan Khofifah dalam Pemilihan Gubernur Jatim 2018 tidak bisa serta-merta ditiru dan dialihkan menjadi fenomena kemenangan untuk Prabowo-Gibran. “Dukungan besar Muslimat NU saat Pilgub Jatim 2018 dikarenakan Khofifah mencalonkan diri. Seandainya cawapres Prabowo adalah Khofifah, maka baru bisa berdampak signifikan,” kata Iqbal,
Iqbal mengingatkan, Khofifah adalah bagian dari kultur NU. “Dia secara personal kultural tetap berposisi sebagai santri yang terikat ketakziman dan nilai-nilai ‘manut kiai. Apalagi warga nahdliyin secara personal lebih manut kepada sosok yang paling ditawadhu’i. Artinya peran kiai atau guru akan tetap lebih besar dalam pemilihan presiden di Jatim,” katanya.
Di lain sisi, basis kultural NU yang termanifestasikan dalam jejaring kiai dan pesantren sudah semakin terkonsolidasi ke pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. “Anggota Muslimat NU yang menjadi caleg PKB tentu sangat berkepentingan memenangkan Cak Imin. Begitu pula Muslimat yang menjadi caleg PPP dan PDI Perjuangan akan berjuang memenangkan Ganjar-Mahfud,” kata Iqbal.
Iqbal mengatakan, Khofifah masih berkepentingan memenangi pilgub di Jatim. Dalam konteks ini, dia melihat Khofifah tidak akan habis-habisan menggerakkan mesin Muslimat, karena membutuhkan kader dan anggotanya dalam kondisi utuh dan tidak terpecah-belah akibat perbedaan dukungan saat pilpres.
“Sangat mungkin keputusannya lebih untuk menyelamatkan tiketnya sendiri menghadapi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2024 melalui koalisi partai-partai pengusung Prabowo-Gibran,” katan Iqbal.
Terakhir, Iqbal tetap percaya, pilpres ditentukan oleh figur capres dan cawapres. “Kekuatan gagasan dan kapasitas karakter, manajemen kepemimpinan serta keluwesan emosi menjadi faktor utama yang jadi pertimbangan pemilih. Secanggih dan sehebat apapun tim kampanye maupun tim sukses, pada ujungnya tetap akan kembali pada kekuatan gagasan dan karakter capres dan cawapres,” katanya. [wir]






