Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, meyakini pemilihan presiden akan diikuti tiga poros koalisi yang masing-masing mendukung Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto.
Wacana untuk menggabungkan Prabowo dan Ganjar menyeruak akhir-akhir ini. Kelompok relawan pendukung Jokowi, Projo, di Bali mengusulkan agar Ganjar menjadi cawapres mendampingi Prabowo. Ganjar sendiri tidak menutup opsi tersebut.
“Kalau politik itu sebelum nanti ditetapkan di KPU semua peluang bisa terjadi,” kata Ganjar usai menghadiri rapat Tim Pemenangan Nasional (TPN) di Gedung High End, Jakarta, Rabu (20/9/2023), sebagaimana dilansir CNN Indonesia.
Iqbal menilai, susah menggabungkan Prabowo dan Ganjar. Prabowo tetap akan bersikukuh menjadi calon presiden. Di sisi lain, Megawati ingin menjadi penentu atau queen maker berhadapan dengan Jokowi yang juga menjadi penentu atau king maker.
“Jika dipaksakan dua poros, paling mungkin adalah Megawati menurunkan gengsi dengan merelakan Ganjar menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo untuk melawan duet Amin (Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar),” kata Iqbal, Senin (25/9/2023).
Namun Iqbal mengingatkan, jika penggaungan Ganjar dan Prabowo benar-benar terjadi, maka muncul konsekuensi politik yang serius. “Bisa jadi Golkar malah belok kanan gabung ke poros Amin,” katanya. Hal ini dikarenakan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto masih berharap bisa menjadi calon wapres Prabowo.
Iqbal menilai wacana dua poros membuktikan realitas sosiologi politik bahwa gelombang dukungan rakyat kepada pasangan Anies – Muhaimin mulai diperhitungkan serius. “Hampir semua kanal arus informasi media utama, media sosial, dan interaksi horisontal terkesan kuat diorkestrasi untuk membendung arus dukungan ke Anies dan Muhaimin,” katanya.
Apalagi dua momentum adu gagasan di Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, menurut Iqbal, menjadi panggung Anies untuk merebut keyakinan pemilih mengayun (swing voters). “Anies bisa meyakinkan ciri karakter kaum muda yang butuh suguhan rasional,” katanya. [wir]






