Malang (beritajatim.com) – Pengamat politik Universitas Brawijaya Malang, Abdul Aziz, menilai sejarah Budiono sebagai wakil presiden berpotensi terulang pada Muhadjir Effendy. Ini mengingat Muhadjir yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan berpeluang menjadi cawapres meski namanya tidak muncul dalam sejumlah survei elektabilitas.
Abdul Aziz menyinggung sejarah Budiono yang tidak pernah masuk dalam survei elektabilitas malah dipilih oleh SBY sebagai cawapres pada Pilpres 2009 lalu dan menang. Hal ini bisa saja terjadi pula pada Muhadjir.
“Sebagai tokoh non-partai politik, Muhadjir dapat disandingkan dengan capres manapun. Ke Anies Baswedan oke, ke Ganjar Pranowo bisa, ke Prabowo Subianto tidak masalah,” ujar Abdul Aziz.
Abdul Aziz menerangkan, merupakan hal wajar apabila Muhadjir muncul sebagai cawapres alternatif. Demokrasi memberi peluang setiap orang untuk masuk dalam arena kompetisi pemilu.
Muhadjir punya hak politik. Apalagi, Muhadjir dinilai punya mutu diri secara intelektual, kepribadian, serta memiliki pengalaman manajerial di pemerintahan.
Baca Juga:
Menko Muhadjir Imbau Pemudik Bawa Driver Cadangan
“Sebagai tokoh dan intelektual yang dekat ke label Muslim (Muhammadiyah), Muhadjir tentu memiliki dan membawa gerbong yang penuh penumpang,” kata dia.
Selain itu, Muhadjir punya modah jaringan sebagai alumni HMI. Sementara secara pribadi, Muhadjir punya kemampuan komunikasi yang baik.
“Ia memiliki kematangan dalam mengambil keputusan dan bijak dalam menyikapi segala sesuai, tentu karena pengalaman sebagai rektor perguruan tinggi terkemuka, juga sebagai menteri yang sudah senior,” kata Abdul Aziz.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya ini juga mengungkapkan, Muhadjir memiliki akseptabilitas yang kuat. Dia bisa diterima dengan baik tidak hanya di kalangan Muhammadiyah, tapi juga NU, KAHMI, non-muslim dan banyak kalangan lain.
Baca Juga:
Muhadjir: Mudik Bersama Kurangi Resiko Kecelakaan
Terkait namanya yang tidak masuk radar lembaga survei sebagaimana cawapres yang lain, bagi Aziz, tidak ada masalah. Sebab memang selama ini tidak disebut-sebut untuk itu.
“Dulu Boediono awalnya tidak masuk survei sama sekali. Baru setelah dicalonkan tercover survei. Demikian pula KH Ma’ruf Amin. Toh akhirnya mereka menang,” tegasnya. [beq]






