Jember (beritajatim.com) – Pemerintah membuka rute penerbangan Kabupaten Jember – Kabupaten Sumenep dan sebaliknya di Jawa Timur setiap Selasa dan Rabu sejak 9 Januari 2024. Namun masih sepi peminat.
Setiap Selasa dan Rabu, penerbangan dari Sumenep berangkat pada pukul 9.40 WIB dan dari Jember sekitar 10.40 WIB. Penerbangan menggunakan pesawat Grand Caravan dari maskapai Susi Air dengan kapasitas 12 tempat duduk dan dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN).
“Ini sudah memasuki minggu kedua, masih belum ada peningkatan signifikan untuk penumpang. Besok rencananya kami ada rapat koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan Sumenep di Kabupaten Jember untuk menggiatkan dan menggalakkan pariwisata masing-masing,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jember Agus Wijaya, Sabtu (27/1/2024).
Sebelumnya tahun lalu, hanya ada satu kali penerbangan setiap pekan dari Jember ke Sumenep dan sebaliknya. Tahun ini ada tambahan jadwal penerbangan pada setiap Rabu yang akan diuji coba hingga April 2024. Tambahan jadwal penerbangan ini dikarenakan warga yang berangkat ke Jember maupun Sumenep akhirnya terpaksa menggunakan transportasi darat untuk kembali ke kota masing-masing.
Permintaan Pemerintah Kabupaten Jember kepada pemerintah pusat untuk menambah jadwal hari penerbangan dikabulkan. Namun Pemkab Jember harus ikut mengupayakan agar setidaknya penerbangan ke Sumenep setiap Rabu bisa mengangkut 10 penumpang. “Kalau dari Sumenep ke Jember bukan bagian kami,” kata Agus.
Artinya, lanjut Agus, setidaknya hingga April nanti tingkat okupansi penumpang pada penerbangan hari Rabu dari Jember ditargetkan mencapai 60-70 persen. “Kalau tidak, maka akan dievaluasi sehingga hanya akan ada satu penerbangan saja seperti tahun kemarin,” katanya.
Agus berharap masyarakat Jember bisa menggunakan pesawat ke Sumenep. “Kalau dari Sumenep ke Jember, harga tiketnya Rp 247 ribu per kursi. Kalau dari Jember ke Sumenep Rp 242 ribu. Sangat efisien untuk masyarakat Jember dan Sumenep,” katanya.
Mengacu penerbangan tahun lalu sejak Januari hingga 23 Desember 2023, okupansi penumpang pada Januari – Juli di atas 60 persen. “Tapi menginjak triwulan keempat, memasuki Oktober-November, ada penurunan jumlah penumpang. Kami tidak tahu. Mungkin karena sasaran masyarakatnya adalah masyarakat religi, maka terbatas pada hari-hari libur. Tahun ini kami mencoba menggandeng Dinas Pariwisata,” kata Agus.
Promosi penerbangan Jember-Sumenep ini semakin digencarkan, terutama melalui media sosial. “Banyak masyarakat belum tahu. Kami minta ke Bagian Kesejahteraan Rakyat untuk membantu sosialisasi ke kalangan pondok pesantren,” kata Agus.
“Yang jadi masalah adalah penerbangan dari Sumenep ke Jember. Tingkat isian kursinya sangat kecil. Kalau yang dari Jember lumayan, sudah lebih dari 60 persen,” kata Agus.
Saat ini banyak permintaan dari masyarakat agar hari penerbangan diubah menjadi Selasa dan Sabtu, Selasa dan Jumat, atau Rabu dan Jumat. “Nah ini kami coba pelajari dan evaluasi. Di obyek wisata religi Jember, kalau malam Jumat, banyak warga yang hadir, sehingga mereka bisa pulang (ke Sumenep) pada hari Jumatnya,” kata Agus.
“Kalau semua permintaan masyarakat kami akomodir, akan terjadi tarik ulur dan tidak ada titik temu. Maka semua masukan akan kami terima dan pelajari sekiranya mana yang dominan untuk dievaluasi untuk mengubah harinya,” kata Agus. [wir]






