Surabaya (beritajatim.com) – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) mengembangkan teknologi green hydrogen car untuk menekan polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil pada kendaraan dan industri energi di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan oleh grup riset Bio-Electrochemistry System dari Prodi Sistem Pembangkitan Energi Departemen Teknik Mekanika Energi PENS.
Riset kendaraan hidrogen ini dilakukan 4 dosen Sistem Pembangkitan Energi yaitu Rif’ah Amalia, Fifi Hesti S, Hendrik Elvian, dan Prima Dewi P. Mereka dibantu 4 mahasiswa yaitu Firdaus Fhudoli, Apriliyona Patrisia, M. Daffa, dan Putri Dwi.
Riset ini dimulai sejak tahun 2017 dan telah mengalami pengembangan hingga saat ini menggunakan green hydrogen car.
BACA JUGA:Dana Hibah Pilkada Lamongan 2024 Disepakati Rp71,5 M
Ketua Tim Rif’ah Amalia mengatakan, riset timnya ini menghasilkan alat berteknologi kendaraan hydrogen disebut IFARA, perangkat portable dan compatible yang dapat memonitor volume air, suhu, tegangan, arus, produksi gas hidrogen yang dihasilkan secara real time dimana pun dan kapan pun lewat handphone dan laptop.
Proses yang terjadi di dalam alat IFARA adalah proses elektrolisis yang mentransform air bebas mineral menjadi gas hydrogen dan oksigen. “Proses elektrolisis ini memanfaatkan sumber renewable energy yaitu fotovoltaik,” katanya, Senin (11/12/2023).
Satu set peralatan fotovoltaik yang diinstal bersama IFARA terdiri atas panel surya cell yang disusun secara seri atau paralel pada atap mobil dan disatukan menjadi modul surya.
Aplikasi fotovoltaik diwujudkan menggunakan panel surya untuk energi dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik. Gas yang dihasilkan dari produk ini yaitu gas hydrogen, yang dapat digunakan secara hybrid dengan bahan bakar bensin ataupun diesel pada mobil maupun motor.
Menurutnya, keuntungan menggunakan perangkat ini adalah emisi gas buang yang dihasilkan jauh lebih ramah lingkungan dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat. Tingkat efisiensinya pun lebih tinggi dibandingkan ketika menggunakan bahan bakar fosil saja.
BACA JUGA:Banjir Luapan Kali Lamong di Mojokerto Rendam 19 Hektar Tanaman Padi
“Penghematan bisa dilakukan hingga 40-60 persen dari yang seharusnya,” kata Rif’ah.
Pemakaian hydrogen sebagai bahan bakar pada kendaraan ini pun diintegrasikan dalam aplikasi. Sehingga, dapat dimonitor real time memakai HP dan laptop. Kemudian, dapat diketahui berapa tegangan dan gas hydrogen yang keluar, dengan jarak tempuh tertentu.
Rencananya, IFARA akan diproduksi massal, mengingat uji coba lapangan produk telah dilakukan dan produk ini masuk dalam kategori siap komersialisasi. Risetnya sendiri telah mengantongi HKI mengenai Penghasil Gas Hidrogen pada 26 September 2023 lalu. (Ipl/Aje)






