RINGKASAN BERITA:
- Proses pendorongan massal ini dibagi ke dalam tiga trip waktu Arab Saudi untuk mengurai kepadatan lalu lintas.
- Kemenhaj menyiagakan 657 petugas Satgas Arafah dan mendirikan Pos Kesehatan Indonesia di Arafah serta Mina.
- Jemaah diimbau ketat mematuhi larangan kain ihram serta menjaga hidrasi tubuh di tengah cuaca panas.
Makkah (beritajatim.com) – Mobilisasi massal jemaah haji Indonesia dari hotel pemondokan di Kota Makkah menuju Padang Arafah resmi digulirkan secara bertahap hari ini, Senin (25/5/2026). Pergerakan krusial yang menandai dimulainya fase puncak ibadah haji Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) 1447 H ini bertepatan dengan tanggal 8 Zulhijah.
Pemerintah menaruh perhatian besar pada kedisiplinan pergerakan mengingat jutaan umat Muslim dari seluruh dunia kini mulai bergerak ke satu titik yang sama. Manajemen Kemenhaj meminta jemaah tidak berspekulasi dengan melakukan pergerakan mandiri di luar jadwal yang telah dikunci oleh petugas maktab.
“Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Maria Ulfa Assegaf di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, antrean bus-bus syarikah mulai merapat ke lobi pemondokan jemaah sejak pagi hari. Sesuai dengan cetak biru pergerakan, pendorongan massal jemaah reguler ini dibagi secara ketat ke dalam tiga tahap waktu Arab Saudi (WAS), yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 WAS.
Akses keluar-masuk hotel dijaga ketat oleh tim linmas guna memastikan alur bagasi dan jemaah berjalan rapi. Kemenhaj juga mewajibkan jemaah untuk bergeser hanya dalam ikatan rombongan resmi kloter demi mempermudah validasi manifes bus.
“Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” lanjut Maria.
Selain mematangkan manajemen pergerakan armada, Kemenhaj mengingatkan seluruh jemaah untuk tidak abai terhadap aturan syariat setelah mengambil niat ihram. Edukasi mengenai larangan ihram kembali diperketat oleh tim bimbingan ibadah di sela-sela persiapan keberangkatan.
Bagi jemaah laki-laki, batasan pakaian menjadi sorotan utama guna menghindari pelanggaran dam. Jemaah dilarang menggunakan pakaian berjahit, penutup kepala yang melekat, serta alas kaki yang menutup mata kaki.
“Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban, serta tidak menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit,” jelas Maria.
Aturan penertiban berpakaian juga berlaku bagi jemaah perempuan yang diwajibkan tetap membuka wajah dan tangan. Kemenhaj melarang penggunaan cadar maupun sarung tangan di dalam area perkemahan selama status ihram masih melekat aktif pada diri jemaah.
“Sedangkan bagi jemaah perempuan, selama dalam keadaan ihram tidak diperkenankan menutup wajah dengan cadar maupun menggunakan sarung tangan. Seluruh jemaah juga harus menjaga diri dari larangan ihram lainnya seperti memotong kuku, mencabut rambut, menggunakan wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk,” sambung Maria.
Mitigasi Cuaca Ekstrem di Arafah
Menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem di kawasan perkemahan Makkah, Kemenhaj mengaktifkan skema mitigasi risiko kesehatan secara agresif. Jemaah diminta rasional dalam mengelola energi dan tidak memaksakan diri memburu aktivitas sunnah di luar tenda yang terpapar matahari langsung.
Penggunaan pelindung diri seperti payung, masker, dan penyemprot air portable menjadi instruksi wajib. Selain itu, jemaah yang membawa riwayat penyakit bawaan (komorbid) diminta menempatkan obat-obatan pribadi di dalam tas paspor agar mudah dijangkau saat terjadi kegawatdaruratan medis.
“Kami meminta seluruh jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji,” ujarnya.
“Gunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas. Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau,” tambah Maria.
Lini pengamanan medis diperkuat lewat pembentukan Pos Kesehatan Indonesia mandiri yang ditempatkan secara khusus di kawasan maktab Arafah dan Mina. Keberadaan pos satelit ini dirancang untuk memotong birokrasi rujukan sehingga penanganan pasien bisa dieksekusi secara instan di lapangan.
“Jangan memaksakan diri. Bila merasa lemas, pusing, sesak napas, atau mengalami gangguan kesehatan lainnya, segera hubungi petugas kesehatan. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat berjalan aman, lancar, dan sempurna,” tegas Maria.
“Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna,” katanya.
Guna memastikan seluruh ekosistem pelayanan di dalam tenda berjalan normal, Kemenhaj telah menerjunkan 657 petugas Satgas Arafah ke titik-titik krusial penempatan jemaah. Korps adhoc ini mengemban mandat untuk mengawasi distribusi katering, kestabilan suhu AC tenda, hingga proteksi penempatan kasur agar tidak terjadi aksi penyerobotan ruang oleh pihak luar.
“Mereka terdiri dari petugas adhoc Arafah, koordinator markas, pengawas konsumsi, dan unsur layanan lainnya yang akan memastikan transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah berjalan maksimal,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Maria mengajak seluruh jemaah untuk menghidupkan kembali spirit solidaritas dengan peduli terhadap kondisi sesama jemaah di dalam maktab, terutama kelompok lansia dan disabilitas yang tidak memiliki pendamping keluarga.
“Jika melihat jemaah yang tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, mohon segera dibantu dan dilaporkan kepada petugas terdekat. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberi kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lontar jumrah di Mina,” pungkas Maria. [ian/MCH]






